Teman Kantor Suka Bully? Hati-Hati Itu Teman Kerja yang Toxic!
Teman Kantor Suka Bully? Hati-Hati Itu Teman Kerja yang Toxic!

Teman Kantor Suka Bully? Hati-Hati Itu Teman Kerja yang Toxic!

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau bekerja di lingkungan kerja toxic. Berhadapan dengan rekan kerja toxic yang memiliki energi negatif tidak hanya melelahkan, tapi juga bisa membuat suasana kerja jadi tidak nyaman.

Rekan kerja yang bersifat toxic mungkin kurang memiliki keterampilan interpersonal yang memadai, seperti kemampuan mendengarkan dan berkomunikasi Pada akhirnya dapat menyebabkan konflik dan ketegangan di lingkungan kerja.

Lantas, apa saja ciri teman kerja yang toxic? Bagaimana cara menghadapi teman kerja toxic yang mengganggu? Mari kita bahas selengkapnya dalam ulasan berikut ini!


Apa Saja Ciri-Ciri Teman Kerja yang Toxic?


Secara umum, teman kerja toxic biasanya cenderung suka mengeluh serta merendahkan orang lain. Jika kamu bertemu dengan orang seperti ini, sebaiknya hindari terlalu banyak berinteraksi dengannya untuk mencegah dampak negatif yang timbul. Selengkapnya, simak ciri-ciri rekan kerja toxic berikut ini!



1. Suka Merendahkan dan Membully Karyawan Lain

Untuk bisa bekerja secara profesional di tempat kerja, setiap karyawan memerlukan rasa aman dan penghargaan di lingkungan kerja agar karyawan dapat memberikan hasil terbaik. Sayangnya, perilaku melecehkan seperti sikap narsistik, suka menindas, atau melontarkan komentar yang tidak pantas menciptakan ketidaknyamanan. 

Akibatnya, fokus kerja terganggu dan rasa aman hilang. Lingkungan yang seharusnya mendukung produktivitas menjadi tidak kondusif, menghambat kinerja dan kebahagiaan di tempat kerja.



2. Menyalahkan Orang Lain atas Kesalahannya

Rekan kerja toxic cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mereka buat. Mereka enggan mengakui tanggung jawab pribadi dan mencari kambing hitam untuk menyembunyikan kegagalan mereka. Perilaku ini menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat dan memicu konflik antar-karyawan. 

Selain itu, itu juga menghambat pertumbuhan dan pembelajaran, karena tanggung jawab tidak dipertimbangkan dan solusi untuk masalah tidak ditemukan secara konstruktif.



3. Suka Berkata Kasar di Kantor

Ciri teman kerja toxic yang berikutnya adalah suka berkata kasar. Ini tidak hanya bisa kamu temukan di lingkungan kerja saja, tapi juga di lingkungan sosial. Teman kerja yang toxic cenderung melontarkan kata-kata yang tidak sopan atau menyinggung, menciptakan suasana yang tidak menyenangkan bagi sesama karyawan. Perilaku ini dapat merusak kerja tim, mempengaruhi moral, dan menciptakan ketegangan di tempat kerja.



4. Tidak Bisa Bekerja Sama dengan Orang Lain

Kemajuan banyak perusahaan tergantung pada kemampuan karyawan untuk bekerja sama dan mencapai tujuan bersama. Namun, ketika rekan kerja menolak berkolaborasi dengan anggota tim lainnya, dampaknya bisa merugikan seluruh elemen perusahaan. 

Tanpa kolaborasi dan kerja sama yang efisien, tim mungkin mengalami penurunan kecepatan kerja dan hasil kerja yang kurang berkualitas. Kolaborasi yang baik adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja dalam sebuah organisasi.



5. Suka Bergosip dan Mengadu Domba Orang di Kantor

Mempercayai rekan kerja memungkinkan efektivitas kerja dalam lingkungan tim. Namun, ketika terjadi gosip dan perilaku menghakimi, kepercayaan dalam kolaborasi tim menjadi sulit. Rekan kerja yang terlalu kritis, menyebarkan rumor, atau gosip dapat meracuni lingkungan kerja. Membangun atmosfer yang bebas dari perilaku tersebut penting untuk menciptakan kerjasama yang produktif dan positif di antara anggota tim.



Bagaimana Cara Menghadapi Teman Kerja yang Toxic?


Membiarkan lingkungan kerja dipenuhi dengan orang-orang toxic bisa menyebabkan dampak yang serius, baik bagi individu maupun perusahaan secara umum. Untuk mengatasinya, ada beberapa langkah yang bisa kamu lakukan. Apa saja?



1. Coba Ajak Bicara untuk Mengetahui Masalahnya

Salah satu cara mengatasi rekan kerja yang toxic adalah dengan mengajak bicara secara langsung untuk memahami masalahnya. Lewat pendekatan terbuka dan empati, komunikasi satu lawan satu dapat membuka kesempatan untuk mengeksplorasi ketidaknyamanan atau ketegangan yang mungkin ada. 

Dengan mendengarkan dengan baik dan menawarkan dukungan, langkah pertama ini bisa membantu memperbaiki hubungan dan memulihkan kepercayaan di lingkungan kerja.



2. Jaga Jarak dan Fokus ke Pekerjaan

Jika langkah pertama tidak mungkin atau gagal dilakukan, kamu dapat menempuh langkah kedua dengan menjauh dari teman kerja yang toxic itu. Hindari terlibat dalam drama atau konflik yang tidak perlu dengan mereka. Prioritaskan tugas dan tujuan pekerjaanmu..

Dengan mempertahankan profesionalisme dan fokus pada tanggung jawamu, kamu dapat mengurangi interaksi negatif dengan rekan kerja toxic dan tetap produktif dalam lingkungan kerja.


3. Jaga Emosi Supaya Tidak Terpancing

Memiliki teman kerja yang toxic mengharuskanmu memiliki kemampuan bagaimana cara mengendalikan emosi yang baik. Tetap tenang dan jauhi konfrontasi langsung. Fokus pada solusi daripada masalahnya. 

Gunakan komunikasi yang efektif untuk menegaskan batasan dan mempertahankan profesionalisme. Menghindari terlibat dalam drama atau konflik yang tidak produktif dapat membantu menjaga kesehatan mental dan lingkungan kerja yang positif.



4. Laporkan ke Atasan dan HRD

Mengatasi rekan kerja toxic juga melibatkan langkah proaktif. Laporkan perilaku tersebut ke atasan dan departemen sumber daya manusia (HRD) untuk tindakan yang sesuai. Jelaskan dengan jelas perilaku yang mengganggu dan dampaknya terhadap tim. Berkomunikasi terbuka dan dokumentasikan interaksi untuk mendukung klaim. Hal ini mendukung lingkungan kerja yang sehat dan produktif.



5. Konsultasi ke Psikolog untuk Menjaga Kesehatan Mental

Jika rekan kerjamu sampai membuatmu merasa stress dan tertekan di tempat kerja, konsultasi ke psikolog adalah solusi yang tepat untuk menjaga kesehatan mentalmu. Psikolog dapat memberikan dukungan dan strategi untuk menghadapi interaksi yang merugikan secara emosional. 

Dalam sesi konseling, kamu dapat mengeksplorasi cara mengelola stres, meningkatkan rasa percaya diri, dan memperkuat batasan pribadi. Keterlibatan dengan psikolog membantu membangun ketahanan mental dan memberikan dukungan saat menghadapi situasi yang menantang di lingkungan kerja.



Employee Assistance Program, Solusi yang Dapat Dicoba untuk Cegah Lingkungan Kerja Toxic


Menjaga lingkungan kerja yang bebas dari orang-orang toxic adalah tanggung jawab semua orang di dalam perusahaan. HRD dan manajemen perlu mempertimbangkan untuk mengadakan EAP atau Employee Assistance Program

Employee Assistance Program adalah program yang disediakan oleh perusahaan untuk membantu karyawan mengatasi masalah pribadi dan profesional yang dapat mempengaruhi kinerja dan kesejahteraan mereka. Melalui EAP, karyawan dapat mengakses layanan konseling, sumber daya psikologis, dan dukungan lainnya secara rahasia dan terjamin. 

Program ini dapat meminimalisir terbentuknya lingkungan kerja toxic dengan memberikan sarana untuk menangani konflik, mengelola stres, dan meningkatkan komunikasi. Dengan demikian, EAP membantu mengurangi dampak individu yang berpotensi menjadi toxic bagi lingkungan kerja secara keseluruhan.

Di Grome, kami menyediakan tenaga psikolog expert dengan spesialisasi di berbagai bidang. Bersama psikolog profesional, kami siap membantu semua perusahaan yang ada di Indonesia untuk mengadakan Employee Assistance Program yang berkualitas. Hubungi kami sekarang juga untuk informasi selengkapnya tentang program EAP Grome!