Ramai Dibicarakan di Media Sosial, Pahami Konsep Gaslighting!
Ramai Dibicarakan di Media Sosial, Pahami Konsep Gaslighting!

Ramai Dibicarakan di Media Sosial, Pahami Konsep Gaslighting!

Di era sosial media, gaslighting adalah jenis manipulasi emosional yang semakin marak dibicarakan. Arti gaslighting dalam bahasa gaul adalah upaya yang dilakukan pelaku untuk membuat ingatan, persepsi, dan pemahaman seseorang mengenai realitas akan diragukan. 

Di tengah popularitasnya di media sosial, penting bagi kita untuk memahami apa itu gaslighting dalam hubungan, membedakannya dari perilaku manipulatif dan playing victim, mengetahui contoh, efek psikologisnya, dan cara menghadapinya.



Apa itu Gaslighting?


Gaslighting berasal dari film tahun 1944 berjudul "Gaslight", di mana karakter utama menggunakan strategi manipulatif untuk membuat istrinya meragukan kewarasan dan persepsinya. Konsep ini sekarang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hubungan interpersonal. 

Apa yang dimaksud dengan gaslighting? Gaslighting adalah suatu bentuk manipulasi mental di mana seseorang dengan sengaja mencoba mempengaruhi dan mengubah cara berpikir, persepsi, ingatan, ataupun realitas orang lain agar sesuai dengan keinginannya. Seringkali gaslighting dimulai dengan tindakan kecil yang meragukan apa yang diyakini korban dan dapat berkembang menjadi pola perilaku yang lebih merusak seiring berjalannya waktu.

Gaslighting tidak hanya terjadi dalam hubungan asmara, tetapi juga dapat terjadi dalam hubungan keluarga, persahabatan, atau bahkan di tempat kerja. Istilah ini semakin dikenal dan digunakan untuk menggambarkan sifat manipulatif dalam interaksi manusia seiring dengan berkembangnya teknologi dan media sosial.



Apa Perbedaan Perilaku Manipulatif dan Gaslighting?


Setelah mengetahui apa itu gaslight di atas, kamu perlu membedakannya juga dengan tindakan red flag lain seperti manipulatif. Gaslighting lebih berfokus pada meragukan fakta dan ingatan korban; dalam hal ini, pelaku akan mencoba mengubah persepsi korban tentang kenyataan dan menimbulkan keraguan yang mendalam. 

Sementara itu perilaku manipulatif melibatkan upaya untuk mengendalikan atau mempengaruhi orang lain, tetapi tidak selalu menciptakan keraguan bagi diri korban seperti pada gaslighting.

Perbedaan ini mencerminkan kompleksitas dan tingkat keparahan dari kedua tindakan; namun, gaslighting memiliki unsur kejahatan yang lebih mendalam.



Apa Bedanya Gaslighting dan Playing Victim?


Gaslighting dan playing victim sering menjadi dua perilaku yang dapat membingungkan dalam hubungan. Dalam playing victim, pelaku lebih fokus pada berperan seolah-olah bahwa mereka adalah korban tanpa maksud untuk mengubah pemahaman korban yang sesungguhnya mengenai realita. 

Seseorang yang melakukan playing victim dapat membuat perasaan bersalah pada pihak yang sebenarnya tidak bersalah, tetapi ini tidak ditujukan secara khusus untuk membuat korban meragukan kenyataan. Sebaliknya, gaslighting artinya menimbulkan rasa keraguan dan ketidakpastian pada korban sebagai tujuan utamanya.



Apa Saja Contoh Gaslighting dalam Hubungan?


Kamu perlu memahami ciri-ciri gaslighting agar dapat berhati-hati dan mewaspadai tindakan tersebut. Berikut adalah contoh gaslighting dalam hubungan:



1. Melakukan Manipulasi Fakta

Memanipulasi pasangan dengan mengubah fakta atau kronologi peristiwa yang mencakup menyebarkan informasi salah atau memanipulasi fakta untuk merubah persepsi.



2. Sering Menyalahkan Pasangan

Menyalahkan pasangan dengan masalah sebenarnya yang diciptakan oleh pelaku dengan mengatakan perkataan seperti "Kamu yang memulai duluan, aku cuma membalas apa yang kamu lakukan".



3. Mencoba Mengisolasi Pasangan

Menghentikan pasangan untuk berhubungan dengan orang lain untuk mempertahankan kontrol atas pasangan. Tindakan ini dapat membuat pasangan merasa tidak aman dan terisolasi. Dengan mengatakan hal semacam "Teman dan keluarga kamu tuh semua toxic, mereka ga peduli sama kamu. Mending kamu sama aku terus”.



4. Suka Mengubah Topik Tiba - Tiba

Pelaku dapat mengalihkan pembicaraan secara tiba-tiba saat korban ingin membahas mengenai suatu permasalahan. Hal ini dilakukan oleh pelaku untuk menghindari tuduhan bersalah, menghindar dari tanggungjawab, dan membuat korban menjadi bingung.



Apa Saja Dampak Psikologis Gaslighting?


Dampak gaslighting dapat menjadi permasalahan serius pada korban. Sehingga menimbulkan dampak-dampak seperti berikut:

  1. Self-Doubt: Keraguan pada diri sendiri terutama terkait dengan penilaian dan pengambilan keputusan.
  2. Self-Blame: Menyalahkan diri sendiri atas keadaan atau masalah yang sebenarnya di luar kendali.
  3. Kepercayaan Diri yang Rendah: Pesimis akan kepercayaan diri dan kemampuan diri sendiri.
  4. Trauma: Gaslighting dapat menyebabkan trauma emosional yang dalam.
  5. Gangguan Kecemasan dan Depresi: Gangguan kecemasan dan depresi muncul sebagai reaksi terhadap perubahan emosional.
  6. Perasaan Terisolasi dan Kesepian: Pelaku gaslighting dapat menyebabkan orang merasa terisolasi dan kesepian.
  7. Codependency: Jenis hubungan di mana korban bergantung pada pelaku untuk mendapatkan dukungan dan validasi emosional.


Sangat penting untuk memahami dampak gaslighting untuk merespons dan mengatasi situasi tersebut. Korban gaslighting harus menyadari dan mengakui efek negatif yang mungkin terjadi, dan mereka juga harus meminta dukungan selama proses pemulihan mereka.



Cara Menghadapi Perilaku Gaslighting


Jika kamu sudah memahami apa itu gaslight dan mengetahui beberapa contohnya, kamu dapat melakukan tindakan berikut. Pendekatan yang hati-hati dan terencana diperlukan untuk mengatasi perilaku gaslighting. Beberapa tindakan yang dapat diambil termasuk:



1. Usahakan untuk Mencatat Perilaku Gaslighting

Ingat-ingat kapan tindakan gaslighting itu terjadi atau dokumentasikan bila memungkinkan untuk memahami pola perilaku dan memberikan dasar yang kuat saat berbicara dengan pasangan. Korban dapat melihat pola manipulatif dengan bantuan dari catatan atau dokumentasi tersebut.



2. Jaga Kesehatan Mental dengan Beraktivitas 

Berpartisipasi dalam aktivitas yang membuatmu bahagia dan stabil secara emosional, seperti berolahraga, membuat karya seni, atau melakukan hal lain yang membantu dirimu menjaga keseimbangan emosional.



3. Cari Dukungan dari Teman, Keluarga, atau Dokter

Berbicara dengan teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental untuk mendapatkan dukungan emosional dan pendapat yang tidak bias. Korban dapat merasa didukung dan didengar jika mereka memiliki ikatan pertemanan atau keluarga yang kuat.

Namun, jika kamu membutuhkan bantuan yang lebih tepat, maka cobalah konseling dengan profesional kesehatan mental. Konseling semacam itu kini sudah banyak tersedia baik offline maupun online. Salah satu layanan konseling online adalah Grome. Kamu bisa mencurahkan segala isi hatimu kepada profesional yang terpercaya.

Baca Juga: Ke Psikolog Ga Selalu Mahal! Ini Daftar Biaya Konsultasi Psikolog!



4. Tinggalkan Hubungan 

Pikirkan apakah hubungan ini masih dapat dipertahankan dan apakah ada kemungkinan perubahan positif. Jika tidak, pertimbangkan untuk meninggalkannya. Mungkin sulit untuk membuat keputusan untuk meninggalkan dan move on dari hubungan, tetapi itu bisa menjadi langkah besar menuju pemulihan.

Langkah penting dalam melindungi kesehatan mental dan emosional adalah memahami apa itu gaslight dan cara menghadapinya. Dengan mengetahui tindakan manipulatif dan mengambil tindakan yang tepat, korban gaslighting dapat membangun pertahanan diri dan membantu proses pemulihan mereka.



Layanan konseling online Grome membantumu mengatasi masalah emosional dan hubungan. Kami memahami kesulitan yang dihadapi oleh korban gaslighting dan memberikan dukungan profesional untuk mengembangkan kesehatan mentalmu.

Kamu dapat mengakses Grome kapan saja dan di mana saja dengan harga yang terjangkau serta privasi yang aman. Segera temukan solusi dari berbagai macam permasalahanmu melalui konseling online Grome yang dapat membantumu mendapatkan kesehatan mental yang lebih baik.