Kecerdasan Emosional Orang Tua Jadi Kunci Kepercayaan Diri Anak!
kecerdasan-emosional-orang-tua-jadi-kunci-kepercayaan-diri-anak

Kecerdasan Emosional Orang Tua Jadi Kunci Kepercayaan Diri Anak!

Bagi banyak orang tua, tantangan terbesar adalah ketika anak sulit diatur, apalagi kalau anak sudah beranjak lebih dewasa dan bisa berargumen. Berbagai “ilmu parenting” saat ini membuat orang tua seringkali dilema. Para orang tua mulai bertanya-tanya “Seperti apakah sebenarnya cara pola asuh yang benar? Apakah harus tegas dan keras agar anak punya rasa hormat? Atau menjadi teman agar anak lebih mau mendengar?”. Dibalik semua itu, ada satu hal yang paling penting untuk selalu diingat orang tua yaitu reaksi emosional yang ditunjukkan pada anak, karena hal tersebut adalah bata pertama yang menyusun dinding self-esteem anak.

Bagaimana kecerdasan emosional (EQ) orang tua dapat mempengaruhi kepercayaan diri anak?

Anak dengan self-esteem yang baik akan tumbuh menjadi pribadi yang optimis, berharga, dan mampu bersosialisasi dengan sehat. Sebaliknya, anak dengan self-esteem yang rendah cenderung memiliki persepsi buruk tentang dirinya, merasa tidak berdaya, dan berisiko tinggi mengalami depresi hingga penurunan prestasi akademik (Maya, dkk. 2018). Menariknya, pembentukan harga diri ini sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua memperlakukan mereka di rumah.

Setiap sikap, reaksi, cara berpikir, cara berkomunikasi, sampai cara mereka menyelesaikan masalah adalah hasil dari pola asuh orang tua. Ada berbagai jenis pola asuh yang kita kenal, namun pola asuh yang dapat dikatakan paling tepat dan berkorelasi kuat dengan harga diri yang positif pada anak adalah pola asuh demokratis. Pernyataan ini didukung oleh penelitian dari Adpriyadi dan Sudarto (2020, dikutip dari Elan & Handayani, 2023 ) yang menyebutkan bahwa pola asuh demokratis membentuk anak yang mampu menghargai pendapat orang lain, mampu bertanggung jawab terhadap dirinya dalam kehidupan sosialnya, dan memiliki kepercayaan diri yang baik. Pola asuh ini memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan yang mereka inginkan tapi juga dengan ketetapan batasan dan pengawasan yang tegas. Anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan didorong juga untuk bisa bertanggung jawab atas apa yang dipilih.


Tentu hal ini bukanlah hal yang mudah karena insting sebagai orang tua pasti selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Kalau anak salah memilih atau bersikap, kemungkinan orang tua merasa marah, kecewa, merasa gagal dan tidak mau melibatkan anak dalam mengambil keputusan. Maka dari itu, untuk bisa menerapkan pola asuh demokratis dengan tepat, orang tua perlu memiliki kecerdasan emosional yang baik. Disebutkan dalam penelitian oleh Sitoui & Panisoara (2023) bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional, maka semakin baik juga kemampuan orang tua dalam menerapkan pola asuh demokratis.
Seperti apa tanda orang tua yang punya kecerdasan emosional yang baik?

Dikutip dari artikel oleh Permana (2025), orang tua yang memiliki EQ tinggi akan mampu untuk :
  • Mengendalikan emosi : Mereka tidak membuat keputusan secara emosional, tidak mudah meledak, dan mampu memperlihatkan pada anak mengenai kesabaran dan kebijaksanaan. 
  • Mendengarkan dengan aktif : Alih-alih membentak, mereka mau mendengarkan perspektif anak dan menciptakan ruang aman bagi anak untuk mengekspresikan emosi.
  • Menunjukkan empati dan validasi pada anak : Mereka mau mengakui emosi anak walaupun mereka tidak setuju dengan perspektif atau pendapat anak.
  • Menawarkan pilihan pada anak : Mereka akan membantu anak memecahkan masalah, menentukan pilihan, dan bertanggung jawab, bukannya menyelesaikan masalah anak. 
  • Mampu meminta maaf : Dengan ini, mereka menunjukkan regulasi emosi yang sehat serta kemampuan untuk mengelola konflik. 
  • Menjaga kesehatan emosional diri sendiri : Mereka menyadari bahwa kondisi mental atau suasana hati tidak akan selalu baik. Maka dari itu, mereka mampu mengkomunikasikan hal tersebut dan meminta pertolongan


Pada akhirnya, pola asuh yang diterapkan orang tua memegang peranan besar dalam membentuk fondasi self-esteem anak. Anak dengan self-esteem yang tinggi umumnya tumbuh dalam keluarga dengan pola asuh yang sehat, seimbang, dan penuh kesadaran emosional. Untuk mencapai hal tersebut, orang tua perlu memiliki kecerdasan emosional yang baik agar mampu merespons anak dengan empati, batasan yang jelas, serta komunikasi yang aman. Dengan demikian, anak tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan sehat secara mental, tetapi juga menjadi bagian dari generasi yang cerdas secara emosional di masa depan.

Sumber : 

Elan, E., & Handayani, S. (2023). Pentingnya Peran Pola Asuh Orang Tua untuk Membentuk Karakter Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(3), 2951-2960.

Maya, S., Windiani, I. T., & Adnyana, I. S. (2018). Korelasi Pola Asuh Orangtua Terhadap Self-Esteem Remaja Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Harapan Denpasar. Sari Pediatri, 20(1), 24-30.

Permana, R.W. (2025, Mei 8). 8 Ciri Orangtua Cerdas Secara Emosional: Kunci Mengasuh Anak Bahagia. Diambil dari https://www.merdeka.com/sehat/8-ciri-orangtua-cerdas-secara-emosional-kunci-mengasuh-anak-bahagia-380471-mvk.html?page=9.

Șițoiu, A., & Pânișoară, G. (2023). The emotional intelligence of today’s parents–influences on parenting style and parental competence. Frontiers in public health, 11, 1120994.