Instruksi yang kurang jelas, materi yang membingungkan, atau pertanyaan yang belum terjawab seharusnya menjadi alasan cukup untuk mencari penjelasan. Namun, bagi sebagian orang, bertanya justru bisa terasa sangat menegangkan. Bukan karena tidak ingin tahu, melainkan karena ada kekhawatiran akan dianggap kurang pintar, dinilai tidak kompeten, atau dicap tidak memperhatikan.
Pikiran seperti “Nanti kalau bertanya, dikira nggak paham materi dasar lagi” atau “Bagaimana kalau pertanyaanku terdengar konyol dan membuat orang lain meragukan kemampuanku?”, bisa membuat kita mengurungkan niat untuk berbicara. Alih-alih bertanya, kita memilih diam dan menyimpan kebingungan itu sendirian sehingga pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di pikiran tanpa pernah terjawab.
Memilih diam mungkin terasa jauh lebih aman karena kita terhindar dari kemungkinan mendapat penilaian negatif. Namun, apa sebenarnya yang membuat kita begitu mengkhawatirkan penilaian orang lain?
Mengapa Kita Takut Dinilai oleh Orang Lain?
Kekhawatiran berlebih terhadap bagaimana orang lain menilai diri kita, terutama jika penilaian tersebut bersifat negatif, dikenal dalam psikologi sebagai fear of negative evaluation (FNE). Watson dan Friend (1969) menjelaskan bahwa FNE muncul ketika seseorang merasa cemas akan penilaian orang lain, merasa tidak nyaman saat berhadapan dengan kemungkinan dinilai buruk, atau memilih menghindari situasi yang menempatkan dirinya merasa dinilai.
Menariknya, seseorang yang mengalami FNE belum tentu memiliki rasa percaya diri yang rendah. Bisa saja ia merasa yakin dengan pemahaman dirinya sendiri, tetapi tetap khawatir orang lain akan memberikan penilaian buruk karena keliru memandang dirinya.
Ketakutan terhadap penilaian orang lain dapat memengaruhi keterbukaan diri. Zeng dan Zhu (2021) menemukan bahwa individu dengan tingkat Fear of Negative Evaluation (FNE) yang lebih tinggi cenderung membagikan lebih sedikit informasi pribadi di media sosia . Artinya, rasa takut akan respons buruk bisa membuat seseorang lebih berhati-hati saat ingin bercerita tentang diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kecemasan ini dapat muncul dalam berbagai situasi. Misalnya, saat diskusi atau rapat, seseorang mungkin memiliki ide yang ingin disampaikan, tetapi mengurungkan niatnya karena takut pendapatnya dianggap tidak relevan atau membuatnya terlihat kurang kompeten. Di sisi lain, kecemasan ini juga dapat muncul ketika seseorang ingin menceritakan perasaan atau keresahannya, tetapi khawatir dianggap berlebihan atau dipandang lemah oleh orang lain. Akibatnya, seseorang memilih untuk diam daripada mengambil risiko mendapat penilaian negatif.
Saat Rasa Takut Membuat Kita Menghindar
Terkadang, kita memilih menghindari sesuatu bukan karena tidak mau menghadapinya, tetapi karena terlalu cemas dengan apa yang mungkin dipikirkan orang lain. Keinginan menyampaikan pendapat, mengungkapkan perasaan, atau sekedar bertanya akhirnya pupus karena khawatir dianggap salah atau mendapat respons yang tidak menyenangkan.
Hal ini sejalan dengan penelitian Du dan Bae (2026) terhadap 313 orang dewasa berusia 19–35 tahun. Penelitian tersebut menemukan bahwa individu yang memiliki rasa takut tinggi terhadap penilaian negatif cenderung lebih sering menghindari situasi yang memicu ketidaknyamanan dan melakukan berbagai upaya untuk meredakan rasa cemas saat berhadapan dengan orang lain.
Misalnya, kita memilih diam ketika ada sesuatu yang mengganggu perasaan karena takut teman tersinggung. Atau, kita menghindari percakapan penting karena khawatir respons yang diterima tidak sesuai harapan dan berujung konflik. Menghindar mungkin membuat kita merasa lebih tenang untuk sementara, tetapi masalah yang ingin disampaikan justru tetap mengendap dan tidak terselesaikan.
Kita tentu tidak bisa mengendalikan bagaimana cara orang lain menilai diri kita. Namun, kita selalu memiliki kendali untuk mulai menyampaikan pikiran dan perasaan secara bertahap. Tidak harus langsung berani dalam setiap situasi, cukup mulai dari hal kecil yang terasa nyaman bagi kita.