Ketika Rasa Takut Dinilai Membuat Kita Memilih Diam

Ketika Rasa Takut Dinilai Membuat Kita Memilih Diam

Dibaca 13 kali

Instruksi yang kurang jelas, materi yang membingungkan, atau pertanyaan yang belum terjawab seharusnya menjadi alasan cukup untuk mencari penjelasan. Namun, bagi sebagian orang, bertanya justru bisa terasa sangat menegangkan. Bukan karena tidak ingin tahu, melainkan karena ada kekhawatiran akan dianggap kurang pintar, dinilai tidak kompeten, atau dicap tidak memperhatikan. 

Pikiran seperti “Nanti kalau bertanya, dikira nggak paham materi dasar lagi” atau “Bagaimana kalau pertanyaanku terdengar konyol dan membuat orang lain meragukan kemampuanku?”, bisa membuat kita mengurungkan niat untuk berbicara. Alih-alih bertanya, kita memilih diam dan menyimpan kebingungan itu sendirian sehingga pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di pikiran tanpa pernah terjawab. 
Memilih diam mungkin terasa jauh lebih aman karena kita terhindar dari kemungkinan mendapat penilaian negatif. Namun, apa sebenarnya yang membuat kita begitu mengkhawatirkan penilaian orang lain?
Mengapa Kita Takut Dinilai oleh Orang Lain? 
Kekhawatiran berlebih terhadap bagaimana orang lain menilai diri kita, terutama jika penilaian tersebut bersifat negatif, dikenal dalam psikologi sebagai fear of negative evaluation (FNE). Watson dan Friend (1969) menjelaskan bahwa FNE muncul ketika seseorang merasa cemas akan penilaian orang lain, merasa tidak nyaman saat berhadapan dengan kemungkinan dinilai buruk, atau memilih menghindari situasi yang menempatkan dirinya merasa dinilai. 
Menariknya, seseorang yang mengalami FNE belum tentu memiliki rasa percaya diri yang rendah. Bisa saja ia merasa yakin dengan pemahaman dirinya sendiri, tetapi tetap khawatir orang lain akan memberikan penilaian buruk karena keliru memandang dirinya. 
Ketakutan terhadap penilaian orang lain dapat memengaruhi keterbukaan diri. Zeng dan Zhu (2021) menemukan bahwa individu dengan tingkat Fear of Negative Evaluation (FNE) yang lebih tinggi cenderung membagikan lebih sedikit informasi pribadi di media sosia . Artinya, rasa takut akan respons buruk bisa membuat seseorang lebih berhati-hati saat ingin bercerita tentang diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kecemasan ini dapat muncul dalam berbagai situasi. Misalnya, saat diskusi atau rapat, seseorang mungkin memiliki ide yang ingin disampaikan, tetapi mengurungkan niatnya karena takut pendapatnya dianggap tidak relevan atau membuatnya terlihat kurang kompeten. Di sisi lain, kecemasan ini juga dapat muncul ketika seseorang ingin menceritakan perasaan atau keresahannya, tetapi khawatir dianggap berlebihan atau dipandang lemah oleh orang lain. Akibatnya, seseorang memilih untuk diam daripada mengambil risiko mendapat penilaian negatif.

Saat Rasa Takut Membuat Kita Menghindar 

Terkadang, kita memilih menghindari sesuatu bukan karena tidak mau menghadapinya, tetapi karena terlalu cemas dengan apa yang mungkin dipikirkan orang lain. Keinginan menyampaikan pendapat, mengungkapkan perasaan, atau sekedar bertanya akhirnya pupus karena khawatir dianggap salah atau mendapat respons yang tidak menyenangkan. 

Hal ini sejalan dengan penelitian Du dan Bae (2026) terhadap 313 orang dewasa berusia 19–35 tahun. Penelitian tersebut menemukan bahwa individu yang memiliki rasa takut tinggi terhadap penilaian negatif cenderung lebih sering menghindari situasi yang memicu ketidaknyamanan dan melakukan berbagai upaya untuk meredakan rasa cemas saat berhadapan dengan orang lain.


Misalnya, kita memilih diam ketika ada sesuatu yang mengganggu perasaan karena takut teman tersinggung. Atau, kita menghindari percakapan penting karena khawatir respons yang diterima tidak sesuai harapan dan berujung konflik. Menghindar mungkin membuat kita merasa lebih tenang untuk sementara, tetapi masalah yang ingin disampaikan justru tetap mengendap dan tidak terselesaikan. 

Kita tentu tidak bisa mengendalikan bagaimana cara orang lain menilai diri kita. Namun, kita selalu memiliki kendali untuk mulai menyampaikan pikiran dan perasaan secara bertahap. Tidak harus langsung berani dalam setiap situasi, cukup mulai dari hal kecil yang terasa nyaman bagi kita.


Menghadapi Rasa Takut Dinilai, Selangkah demi Selangkah 

Rasa takut dinilai negatif (Fear of Negative Evaluation atau FNE) bisa membuat kita ragu untuk bertanya atau menyampaikan pendapat karena khawatir dianggap tidak mampu atau pertanyaan kita dianggap sepele. Berdasarkan dari penelitian (Abeditehrani et al., 2024), ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi rasa takut tersebut, antara lain: 

  • Kenali pikiran yang membuatmu ragu
Saat ingin bertanya tetapi mengurungkan niat, coba perhatikan apa yang kamu takutkan. Apakah kamu khawatir dianggap tidak kompeten, dipermalukan, atau membuat kesalahan? Coba bedakan antara hal yang nyata-nyata pernah terjadi dengan kemungkinan buruk yang baru kamu bayangkan. 

  • Mulai dari tindakan kecil dan aman 
Kamu tidak harus langsung berani berbicara di forum besar. Mulailah dengan meminta penjelasan kepada teman yang dipercaya atau mengonfirmasi instruksi yang belum jelas. Misalnya, “Aku mau memastikan supaya nggak salah memahami instruksinya. Untuk bagian ini, maksudnya bagaimana, ya?”. 

  • Evaluasi pengalaman setelah mencoba
Setelah mencoba berbicara, perhatikan bagaimana respons orang lain. Apakah tanggapan mereka benar-benar seperti yang kamu takutkan? Apakah pertanyaanmu justru membantu memperjelas informasi? Coba gunakan pengalaman tersebut untuk mengevaluasi kekhawatiranmu dan mempertimbangkan kemungkinan lain yang lebih realistis. 

  • Sadari peran lingkungan 
Ejekan atau respons yang merendahkan bisa membuat seseorang takut menyampaikan pendapat. Sebaliknya, lingkungan yang menghargai pertanyaan dapat membangun rasa aman (psychological safety) dan mendukung proses belajar dalam tim (Edmondson, 1999). Jika merasa kurang aman, carilah dukungan dari orang yang dipercaya.



Jika belum mengetahui sesuatu, bukan berarti kamu tidak mampu. Kita semua memiliki hal yang masih perlu dipelajari, dan bertanya merupakan salah satu cara untuk berkembang. Namun, jika rasa takut terhadap penilaian orang lain memicu kecemasan yang terus menghambat komunikasi, perkuliahan, pekerjaan, atau aktivitas sehari-hari, Kamu bisa mencoba program digital GROME EASE (Embrace Anxiety, Sadari Emosi) untuk belajar memahami dan mengelola kecemasan secara mandiri.

Kamu boleh masih belajar tanpa harus merasa malu karena belum mengetahui semuanya.

Referensi

Abeditehrani, H., Dijk, C., Dehghani Neyshabouri, M., & Arntz, A. (2024). Effectiveness of cognitive behavioral group therapy, psychodrama, and their integration for treatment of social anxiety disorder: A randomized controlled trial. Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry, 82, 101908. https://doi.org/10.1016/j.jbtep.2023.101908

Du, Y., & Bae, S.-M. (2026). The serial multiple mediating effects of experiential avoidance and safety behaviors on the relationship between fear of negative evaluation on social anxiety in early adults. BMC Psychology, 14, Article 766. https://doi.org/10.1186/s40359-026-04440-6 

Edmondson, A. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. Administrative Science Quarterly, 44(2), 350–383. https://doi.org/10.2307/2666999

Watson, D., & Friend, R. (1969). Measurement of social-evaluative anxiety. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 33(4), 448–457. https://doi.org/10.1037/h0027806

Zeng, R., & Zhu, D. (2021). Fear of evaluation and online self-disclosure on WeChat: Moderating effects of protective face orientation. Frontiers in Psychology, 12, Article 530722. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.530722