Pernah nggak, sejak punya pasangan, kamu merasa perlahan ada yang berubah dari dalam dirimu? Mulai dari cara kamu menghabiskan waktu, keberanian mencoba hal baru, sampai sudut pandangmu dalam menilai diri sendiri mungkin sekarang terasa sedikit berbeda sebelum ada dia.
Menjalani hubungan memang secara alami membawa warna baru dalam keseharian kita. Kita mungkin jadi mencoba aktivitas yang sebelumnya tidak terpikirkan, punya pengalaman yang berbeda, atau melihat sesuatu dari sudut pandang yang sebelumnya belum pernah kita pertimbangkan. Perubahan-perubahan kecil seperti ini sebenarnya merupakan proses yang wajar terjadi saat dua orang saling berbagi kehidupan.
Bersama Pasangan, Kita Bisa Berubah Menjadi Seperti Apa?
Ketika seseorang menjalani hubungan romantis, hubungan tersebut dapat berkaitan dengan perubahan dalam konsep dirinya. Mattingly et al. (2014) menjelaskan bahwa perubahan konsep diri yang berkaitan dengan hubungan (relationship-induced self-concept change) dapat berlangsung ke arah yang berbeda.
Seseorang bisa menemukan atau mengembangkan sisi baru dalam dirinya, tetapi hubungan juga dapat membuat beberapa bagian dari dirinya berkurang atau justru memunculkan perubahan yang kurang sesuai dengan dirinya. Dalam penelitian Mattingly et al. (2014), perubahan tersebut dibedakan menjadi empat proses, yaitu:
Self-expansion: menambahkan atau mengembangkan hal-hal yang diinginkan dalam konsep diri.
Self-contraction: berkurangnya bagian tertentu dari diri yang sebelumnya ada.
Self-pruning: berkurangnya hal-hal yang tidak diinginkan dalam diri.
Self-adulteration: bertambahnya hal-hal yang tidak diinginkan dalam diri.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa perubahan konsep diri dalam hubungan tidak selalu mengarah pada perkembangan yang sama. Mattingly et al. (2014) menemukan bahwa self-expansion dan self-pruning berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih positif, sedangkan self-contraction dan self-adulteration berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih negatif. Dengan demikian, pengaruh hubungan terhadap diri tidak hanya dapat dilihat dari ada atau tidaknya perubahan, tetapi juga dari ke mana perubahan tersebut membawa kita.
Dari keempat bentuk perubahan tersebut, self-expansion menarik untuk dibahas lebih lanjut karena menunjukkan bagaimana hubungan romantis dapat menjadi kesempatan untuk mengembangkan aspek-aspek baru dalam diri.
Mengenal Self-Expansion: Ketika Dunia Pasangan Memperluas Duniamu
Self-Expansion Theory dari Aron dan Aron menjelaskan bahwa manusia memiliki dorongan untuk memperluas dirinya melalui berbagai pengalaman, termasuk melalui hubungan dekat dengan orang lain. Dalam hubungan romantis, pasangan dapat menjadi salah satu sumber pengalaman yang membantu seseorang memperluas pemahaman dan pengalaman tentang dirinya (Aron et al., 2022).
Karena itu, perubahan setelah memiliki pasangan tidak selalu berarti seseorang “kehilangan dirinya”. Bisa jadi, perubahan tersebut merupakan bagian dari proses perkembangan diri. Misalnya, kamu yang sebelumnya kurang menyukai aktivitas outdoor, jadi tertarik mencoba hiking ketika dikenalkan oleh pasangan. Perlahan, pengalaman tersebut bisa menjadi bagian dari perkembangan dirimu.
Hal ini juga dapat terjadi ketika pasangan memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Dalam hubungan romantis lintas budaya, perbedaan dengan pasangan juga bisa menjadi kesempatan untuk memperluas diri. Ketika pasangan saling mengenal budaya masing-masing, berbagi pengalaman, dan terbuka membicarakan perbedaan budaya, mereka mendapatkan kesempatan untuk melihat diri dan dunia dari sudut pandang yang berbeda. Proses ini dapat membantu seseorang mengembangkan pemahaman tentang dirinya, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap identitas budayanya (West et al., 2024).