Akhir-akhir ini, kamu merasa lebih mudah kesal, bahkan oleh hal-hal yang biasanya biasa saja. Perkataan orang lain yang biasanya nggak kamu pikirkan pun tiba-tiba terasa mengganggu.
Setelah itu, kamu mungkin baru sadar, “Kok aku gampang marah, ya?”
Tapi coba renungkan sejenak. Apakah kamu benar-benar sedang marah, atau sebenarnya cuma kelelahan? Terkadang, rasa marah yang muncul sebenarnya bukan hanya tentang kejadian yang sedang kita hadapi. Di balik rasa kesal, bisa saja ada rasa kecewa, merasa nggak dihargai, kewalahan, frustrasi, atau energi kita yang memang sudah habis.
Jadi, sebelum menganggap diri sendiri sedang marah, mungkin ada baiknya untuk berhenti sebentar dan melihat apa yang sebenarnya sedang kamu rasakan.
Kenapa Kita Kadang Sulit Menghadapi Emosi?
Emosi yang kita rasakan nggak selalu muncul satu per satu. Dalam satu situasi, kita bisa merasa kesal, kecewa, capek, dan kewalahan sekaligus. Ketika beberapa emosi muncul bersamaan, kita mungkin jadi lebih sulit memahami apa yang sebenarnya sedang kita rasakan atau menentukan bagaimana harus meresponsnya.
Cara kita memahami dan merespons emosi tersebut berkaitan dengan regulasi emosi, yang dapat terjadi secara sadar maupun otomatis (Gyurak, Gross, & Etkin, 2011 dalam Gross, 2015).
Ketika emosi sedang bergejolak, kita tidak selalu perlu langsung merespons saat itu juga.
Memberi jeda sejenak dapat memberi ruang untuk memahami apa yang sedang dirasakan sebelum menentukan respons. Contohnya, saat seseorang tiba-tiba membatalkan janji dan kamu langsung diliputi kekesalan, kamu bisa berhenti sejenak untuk menyadari bahwa rasa kesal itu mungkin bercampur dengan kekecewaan atau dipengaruhi oleh rasa lelah. Dari kesadaran kecil inilah, kamu jadi punya ruang untuk memilih cara merespons yang lebih tenang dan bijak.
Lalu, Kenapa Kondisi Diri Bisa Memengaruhi Cara Kita Menghadapi Emosi?
Ternyata, mengenali emosi saja belum cukup. Kondisi diri saat emosi itu muncul juga penting untuk diperhatikan. Saat sedang stres atau lelah secara mental, kita mungkin jadi lebih sulit mengatur respons terhadap emosi yang muncul. Meski begitu, pengaruh stres terhadap regulasi emosi tidak selalu sama. Situasi dan kondisi yang sedang kita hadapi juga dapat memengaruhi bagaimana kita meresponsnya (Grillon et al., 2015; Langer et al., 2025).
Contohnya, setelah seharian bekerja atau beraktivitas, kamu pulang dalam keadaan lelah. Tiba-tiba, seseorang meminta bantuan untuk hal yang sebenarnya sepele. Namun, kamu langsung merasa kesal. Bisa jadi kamu memang terganggu dengan permintaan itu. Tapi bisa juga, rasa lelah yang kamu rasakan membuat hal sederhana terasa jauh lebih menguras energi dari biasanya.
Karena itu, saat kamu merasa lebih gampang marah, jangan cuma bertanya, "Sebenarnya aku sedang merasa apa?" Coba tanyakan juga, "Aku sedang dalam kondisi seperti apa?"