Kenapa Hubungan yang Harusnya Nyaman Malah Bikin Lelah
kenapa-hubungan-yang-harusnya-nyaman-malah-bikin-lelah

Kenapa Hubungan yang Harusnya Nyaman Malah Bikin Lelah?

Pernahkah kamu merasa capek sehabis mengobrol dengan pasangan? Kelelahan ini bukan karena tenaga fisikmu terkuras, melainkan karena kamu terus-menerus memendam perasaan, berpura-pura baik-baik saja demi menjaga kedamaian, dan selalu ragu setiap kali ingin jujur. 

Kadang, rasa lelah dalam hubungan juga tidak muncul karena pertengkaran besar. Bisa jadi karena hal-hal kecil yang terjadi berulang kali, seperti merasa tidak didengarkan saat bercerita, kebutuhan yang tidak kunjung dipahami, komunikasi yang selalu berujung salah paham, atau merasa kamu terus menjadi pihak yang berusaha mempertahankan hubungan. 

Kalau hal-hal kecil ini terus terjadi, hubungan yang sebelumnya terasa nyaman bisa perlahan terasa berbeda. Jadi, melihat kondisi hubungan bukan hanya soal seberapa sering kamu bertengkar, tetapi juga tentang bagaimana kamu merasakan dan menilai hubungan yang sedang dijalani. Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai relationship satisfaction atau kepuasan dalam hubungan.


Apa itu Relationship Satisfaction? 

Sederhananya, relationship satisfaction adalah bagaimana kamu melihat dan merasakan hubungan yang sedang kamu jalani. Namun, kamu bisa melihatnya dari bagaimana rasanya menjalani hubungan tersebut: apakah kamu merasa nyaman, didengarkan, kebutuhanmu diperhatikan, dan mendapatkan dukungan dari pasangan (Stinnett et al., 1984, dalam Novel & Fridari, 2025). Ketika hubungan terasa memuaskan, kamu mungkin merasa ada ruang untuk saling memberi dan menerima. Sebaliknya, ketika kepuasan mulai menurun, hubungan yang sebelumnya terasa nyaman bisa terasa semakin menguras energi dan membuatmu harus mengeluarkan lebih banyak tenaga untuk menjalaninya. 

Namun, ketika kepuasan hubungan mulai menurun, hubungan yang sebelumnya menjadi tempat aman untuk beristirahat dan mendapatkan dukungan, dapat berubah menjadi ruang yang justru menguras energi serta membutuhkan banyak usaha emosional untuk menjalaninya. Apabila seseorang merasa didengar, dihargai, diperhatikan, dan mendapatkan dukungan dari pasangannya, hubungan cenderung dinilai secara lebih positif. kebutuhan tersebut terus-menerus tidak terpenuhi, seseorang dapat mulai merasa kecewa, tidak dipahami, atau kehilangan dukungan yang sangat ia butuhkan.

Kepuasan dalam hubungan juga berkaitan dengan kesejahteraan seseorang secara lebih luas. Hubungan romantis yang terasa positif juga dapat berkaitan dengan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang (Proulx et al., 2007; Robles et al., 2014 dalam Bühler et al., 2021). Artinya, bagaimana kamu merasakan hubunganmu tidak hanya berkaitan dengan hubungan itu sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi bagaimana kamu menjalani kehidupan sehari-hari. Namun, kepuasan dalam hubungan tidak selalu berada pada tingkat yang sama seiring berjalannya hubungan (Bühler et al., 2021). Cara pasangan berkomunikasi, menghadapi konflik, dan memperlakukan satu sama lain juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang menilai hubungannya (Novel & Fridari, 2025). 

Berikut merupakan beberapa hal yang berkaitan dengan kepuasan dalam hubungan antara lain: 
  • Komunikasi dan interaksi: saat salah satu pasangan sedang sedih atau menghadapi masalah, misalnya apakah ia merasa didengarkan dan mendapat respons dari pasangannya. seperti ditanya apa yang terjadi, didengarkan tanpa langsung menghakimi, atau diberi dukungan ketika membutuhkannya. 
  • Waktu yang dihabiskan bersama: apakah pasangan masih menyempatkan waktu untuk makan bersama, mengobrol, atau melakukan aktivitas yang mereka sukai. 
  • Pemenuhan kebutuhan: apakah seseorang merasa mendapat dukungan dan perhatian dari pasangan, sekaligus tetap memiliki ruang untuk dirinya sendiri. 
  • Cara menghadapi tantangan: ketika terjadi konflik atau masalah, apakah pasangan mau membicarakannya dan mencari jalan keluar bersama.


Ketika komunikasi berjalan dengan baik dan pasangan mampu saling merespons kebutuhan satu sama lain, hubungan dapat menjadi tempat untuk mendapatkan dukungan dan berbagi beban. Sebaliknya, ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik, kebutuhan sering kali tidak terpenuhi, atau konflik terus berulang tanpa penyelesaian, hubungan dapat terasa semakin berat untuk dijalani (Overall et al., 2016; Lavner et al., 2016). 

Sebagai contoh, kamu sedang mengalami hari yang berat dan ingin bercerita kepada pasangan, namun pasangan justru sibuk dengan ponselnya atau memberikan respons yang membuatmu merasa tidak dipahami. Mungkin awalnya kamu hanya merasa sedikit kecewa. Kalau pola komunikasi seperti ini terus berulang, hubungan yang seharusnya menjadi tempat untuk saling mendukung justru bisa terasa semakin melelahkan. Pola komunikasi yang kurang sehat juga dapat berkaitan dengan menurunnya kepuasan dalam hubungan (Lefebvre et al., 2026). 

Pada akhirnya, rasa lelah dalam hubungan tidak selalu berasal dari satu pertengkaran besar. Terkadang, rasa tersebut terbentuk dari banyak pengalaman kecil yang terjadi berulang kali hingga memengaruhi bagaimana kamu memandang hubunganmu secara keseluruhan. Hubungan bukan tentang selalu merasa baik-baik saja, tetapi tentang memiliki ruang untuk memahami satu sama lain ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. 

Kalau kamu dan pasangan merasa membutuhkan ruang untuk membicarakan apa yang sedang terjadi dalam hubungan kalian, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Grome.id menyediakan layanan dating counseling dan marriage counseling yang bisa membantumu dan pasangan memahami dinamika hubungan dan bertumbuh bersama.


Referensi:

Bühler, J. L., Krauss, S., & Orth, U. (2021). Development of relationship satisfaction across the life span: A systematic review and meta-analysis.Psychological Bulletin, 147(10), 1012–1053. https://doi.org/10.1037/bul0000342 

Novel, S. J. A., & Fridari, I. G. A. D. (2025). Kepuasan hubungan romantis pada dewasa awal yang berpacaran. JISPENDIORA: Jurnal Ilmu Sosial, Pendidikan dan Humaniora, 4(3), 77–95. https://doi.org/10.56910/jispendiora.v4i3.2903 

Stinnett, J., Walters, E., & Kaye, K. (1984). Relationships in Marriage and the Family (2nd ed.). New York: Macmillan. 

Overall, N. C., Fletcher, G. J. O., Simpson, J. A., & Sibley, C. G. (2016). The importance of being direct: The role of direct communication in relationship conflict. Personality and Social Psychology Review, 20(4), 1–23.

Lavner, J. A., Karney, B. R., & Bradbury, T. N. (2016). Does couples’ communication predict marital satisfaction, or does marital satisfaction predict communication? Journal of Family Psychology, 30(6), 607–618.