Besok ada presentasi, tapi dari malam sebelumnya kamu sudah kepikiran, “Nanti kalau salah ngomong gimana, ya?” Hal serupa juga bisa muncul ketika kamu sedang menunggu sesuatu. Misalnya, saat menunggu balasan chat yang tak kunjung datang, kamu mulai bertanya-tanya, “Jangan-jangan dia marah?” Begitu juga ketika menunggu hasil seleksi, pikiranmu sudah lebih dulu sibuk membayangkan skenario terburuk.
Padahal, semua itu masih berupa kemungkinan. Saat menghadapi situasi yang belum pasti, wajar kalau otak kita mulai mencoba menebak-nebak apa yang akan terjadi. Kita bisa membayangkan berbagai kemungkinan, termasuk hal-hal yang mungkin tidak sesuai dengan harapan kita.
Dalam psikologi, kecenderungan untuk terus memikirkan berbagai kemungkinan yang belum terjadi dikenal sebagai worry (kekhawatiran). Kekhawatiran ini biasanya muncul ketika kita menghadapi situasi yang hasilnya belum pasti, sehingga pikiran terus mencoba membayangkan apa yang mungkin terjadi (Borkovec et al., 1983).
Akhirnya, pikiran bisa mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.
- “Kalau ternyata gagal gimana?”
- “Kalau ada sesuatu yang buruk terjadi gimana?”
- “Kalau ternyata aku salah mengambil keputusan?”
Membayangkan Hal Buruk: Kecemasan atau Bentuk Persiapan?
Memikirkan kemungkinan buruk sebenarnya tidak selalu negatif. Bagi sebagian orang, membayangkan apa yang mungkin berjalan tidak sesuai harapan justru dapat menjadi cara untuk mempersiapkan diri. Strategi ini dikenal sebagai defensive pessimism, yaitu ketika seseorang mempertimbangkan kemungkinan negatif dengan tujuan untuk mengelola kecemasan, mendorong diri untuk berusaha, dan mempersiapkan diri menghadapi situasi yang dianggap berisiko (Norem & Cantor, 1986).
Misalnya, sebelum presentasi kamu membayangkan kemungkinan lupa materi, salah menjawab pertanyaan, atau merasa gugup. Dari situ, kamu mungkin memutuskan untuk mempelajari lebih matang materi atau menyiapkan catatan sebagai antisipasi.
Namun, ada perbedaan besar antara mempersiapkan diri dengan kekhawatiran yang berputar tanpa henti. Ketika pikiran terus memunculkan berbagai kemungkinan dan sulit dihentikan, perhatian kita bisa semakin tersita oleh kekhawatiran tersebut (Borkovec et al., 1983).
Ambil Jeda Sebentar, Mari Cek Pikiranmu
Kalau kamu mulai menyadari pikiranmu sudah terlalu jauh, coba ambil napas dalam-dalam, berhenti sejenak, dan ajukan 3 pertanyaan ini pada dirimu:
- “Sebenarnya, apa yang aku tahu saat ini?”
- “Yang aku pikirkan ini sudah terjadi, atau baru kemungkinan?”
- “Ada nggak hal yang bisa aku lakukan sekarang?”
Kalau memang ada yang bisa dilakukan, coba fokus pada hal tersebut. Setelah itu, kamu nggak harus terus mencari kemungkinan lain yang belum tentu terjadi. Yang bisa kita lakukan adalah membedakan antara mempersiapkan diri dan terus-menerus menyiksa diri dengan kekhawatiran yang belum nyata.