Jangan-Jangan Kamu People Pleaser!
jangan-jangan-kamu-people-pleaser-

Jangan-Jangan Kamu People Pleaser!

Di kantor, kamu selalu jadi orang yang bersedia lembur demi membereskan pekerjaan rekan kerja atau tugas dari bos yang mendadak dikasih mepet jam pulang. Di rumah atau lingkungan pertemanan, kamu juga selalu jadi orang yang gak bisa nolak tiap kali dimintain tolong ini-itu. Akibatnya? Waktu untuk dirimu sendiri pun habis. 

Setiap kali mau bilang “TIDAK”, kamu seperti dihantui rasa bersalah dan ketakutan, “Nanti kalau mereka kecewa gimana? Nanti kalau aku dibilang egois gimana?”. 

Akhirnya… kamu memilih menomorduakan diri sendiri. Kamu pikir kamu cuma sedang menjadi "Si Paling Berkorban", padahal nyatanya… kamu terjebak jadi seorang People Pleaser

Apa Itu People Pleaser? 

People pleaser adalah istilah untuk orang yang memiliki dorongan kuat buat selalu menyenangkan orang lain. Kamu rela mengubah kepribadian, mengorbankan waktu tidur, bahkan menguras emosi sendiri demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan (Halodoc, 2025). Perilaku ini sebenarnya adalah bentuk pertahanan diri (coping mechanism) untuk menghindari konflik, kemarahan, atau penolakan, serta demi memenuhi kebutuhan akan validasi dari lingkungan sekitar (Fakultas Psikologi Unesa, 2026; Halodoc, 2025). 

For Your Information! People pleaser bukanlah diagnosis penyakit medis atau gangguan jiwa resmi. Ini hanyalah istilah informal untuk menggambarkan pola perilaku "nggak enakan" yang sudah berlebihan dan merugikan diri sendiri.


Ciri-Ciri "Si Paling Nggak Enakan" 

Apakah kamu salah satunya? Coba cek tanda-tanda berikut! (Tanghana dkk., 2025; FEB UGM, 2025; Marthasya dkk., 2025): 
  • Sangat sulit untuk menolak permintaan orang lain 
  • Memiliki ketakutan yang besar akan penolakan atau tidak disukai
  • Selalu mencari pengakuan dan pujian dari lingkungan sosial agar merasa berharga 
  • Rela mengubah atau menyesuaikan kepribadian demi menyenangkan orang di sekitar 
  • Sering kali terlalu berkomitmen pada sebuah rencana, tanggung jawab, atau proyek melebihi kapasitas diri 
  • Menghindari pembelaan untuk kepentingan diri sendiri (misal: berkata "aku baik-baik saja", padahal sebenarnya tidak) 
  • Terlalu mudah setuju dengan pendapat semua orang demi menghindari gesekan/konflik 
  • Suka meminta maaf secara berlebihan, bahkan untuk hal-hal yang jelas-jelas bukan kesalahanmu 

Mengapa Seseorang Bisa Jadi People Pleaser? 

  • Teori Hierarki Maslow & Sociometer: Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk merasa memiliki (belonging) dan dihargai. Melalui Sociometer Theory, Mark R. Leary menjelaskan bahwa harga diri (self-esteem) seseorang sangat berkaitan dengan cara ia merasa diterima oleh lingkungannya. Ketika penerimaan itu dianggap terlalu penting, seseorang akan menyesuaikan diri secara berlebihan, termasuk terus berkata “iya” saat ingin menolak (FEB UGM, 2025; Fakultas Psikologi Unesa, 2026). 
  • Pola Asuh Masa Lalu (Conditional Love): Banyak people pleaser yang tumbuh dengan kasih sayang bersyarat (conditional love) saat kecil. Mereka terbiasa baru dipuji atau disayang jika menjadi "anak penurut", dan akan diabaikan atau dimarahi jika berani menolak atau mengekspresikan emosi negatif (FEB UGM, 2025). 
  • Anxious Attachment: Orang dengan kecemasan akan penolakan cenderung menjaga hubungan dengan segala cara, termasuk menumbalkan kenyamanan diri sendiri. Penelitian pada mahasiswa di Kota Kupang membuktikan bahwa semakin aman (secure) kualitas attachment style seseorang, semakin rendah kecenderungannya untuk melakukan perilaku people pleasing (Tanghana dkk., 2025).


Bagaimana Dampaknya? 

  • Stres Kronis & Burnout Emosional: Kamu kelelahan fisik dan mental karena terus-menerus mengurus dan memprioritaskan hidup orang lain di atas kebutuhan pribadimu (FEB UGM, 2025). 
  • Krisis Identitas: Kamu kehilangan arah dan bingung dengan apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan serta keinginan dirimu sendiri (FEB UGM, 2025). 
  • Harga Diri Rendah: Studi dalam Journal of Personality and Social Psychology mengungkapkan bahwa people pleaser justru cenderung memiliki penghargaan diri yang rendah karena selalu menomorduakan dirinya. 
  • Gangguan Mental Lainnya: Perilaku ini rentan memicu masalah kesehatan mental yang lebih serius seperti kecemasan akut, depresi, hingga hilangnya rasa percaya diri (Marthasya dkk., 2025). 

Jadilah Orang Baik pada Diri Sendiri dan Orang lain! 

Ingat, berhenti menjadi people pleaser bukan berarti berubah jadi orang jahat melainkan bentuk self-love agar kamu bisa membantu orang lain secara sehat tanpa harus merugikan diri sendiri. Coba lakukan langkah ini! 

  • Penuhi Kebutuhanmu Dahulu 
Cobalah berkomitmen untuk memenuhi satu kebutuhan dirimu sendiri terlebih dahulu setiap harinya. Entah itu tidur tepat waktu, mengambil jeda istirahat di tengah kerjaan, atau sesederhana makan makanan kesukaanmu tanpa memikirkan komentar orang lain (Halodoc, 2025). 
  • Jangan langsung bilang "Ya" 
Mulai sekarang, jika ada yang meminta bantuan, beri jeda dengan menjawab: "Aku cek jadwal/kapasitas aku dulu ya, nanti aku kabari lagi sejam lagi." Ini memberi waktu bagi otakmu untuk berpikir jernih tanpa tekanan (FEB UGM, 2025). 
  • Praktikkan Time Blocking 
Blokir waktu khusus di kalender HP-mu untuk istirahat, hobi, atau mengerjakan tugas pribadimu. Waktu ini tidak boleh diganggu oleh permintaan mendadak dari orang lain (Halodoc, 2025). 
  • Pasang Batasan Waktu (Time Limit
Saat kamu memutuskan untuk membantu, kamulah yang memegang kendali atas waktumu. Contoh: "Aku bisa bantu beresin berkas ini, tapi cuma bisa sampai jam 5 sore ya, karena setelah itu aku ada urusan lain." 
  • Latihan Bilang "Tidak" Secara Asertif 
Ingat, menolak adalah hakmu. Kamu bisa menolak dengan sopan, kok. Cukup katakan: "Maaf banget ya, untuk saat ini kapasitas/waktu aku lagi penuh, jadi belum bisa bantu." (FEB UGM, 2025).



Menjadi "Si Paling Baik" untuk semua orang hanya akan membuat kita berakhir sebagai "Si Paling Berkorban" yang kehilangan diri sendiri. Hubungan yang sehat justru lahir ketika kita bisa peduli pada orang lain tanpa harus merugikan diri sendiri. 

Apabila kamu kesulitan menetapkan batasan diri yang sehat dan terus terjebak dalam lingkaran people pleasing, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Melalui layanan konseling psikologi di grome.id, kamu akan dibantu untuk memahami akar kecemasanmu, membangun komunikasi yang asertif, serta belajar mencintai diri sendiri dengan cara yang jauh lebih sehat. 

Jadi, sayangi dirimu sendiri, Gromers! Kalau bukan kita yang menjaga diri sendiri, siapa lagi?


Referensi: