Bagaimana Dampaknya?
- Stres Kronis & Burnout Emosional: Kamu kelelahan fisik dan mental karena terus-menerus mengurus dan memprioritaskan hidup orang lain di atas kebutuhan pribadimu (FEB UGM, 2025).
- Krisis Identitas: Kamu kehilangan arah dan bingung dengan apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan serta keinginan dirimu sendiri (FEB UGM, 2025).
- Harga Diri Rendah: Studi dalam Journal of Personality and Social Psychology mengungkapkan bahwa people pleaser justru cenderung memiliki penghargaan diri yang rendah karena selalu menomorduakan dirinya.
- Gangguan Mental Lainnya: Perilaku ini rentan memicu masalah kesehatan mental yang lebih serius seperti kecemasan akut, depresi, hingga hilangnya rasa percaya diri (Marthasya dkk., 2025).
Jadilah Orang Baik pada Diri Sendiri dan Orang lain!
Ingat, berhenti menjadi people pleaser bukan berarti berubah jadi orang jahat melainkan bentuk self-love agar kamu bisa membantu orang lain secara sehat tanpa harus merugikan diri sendiri. Coba lakukan langkah ini!
- Penuhi Kebutuhanmu Dahulu
Cobalah berkomitmen untuk memenuhi satu kebutuhan dirimu sendiri terlebih dahulu setiap harinya. Entah itu tidur tepat waktu, mengambil jeda istirahat di tengah kerjaan, atau sesederhana makan makanan kesukaanmu tanpa memikirkan komentar orang lain (Halodoc, 2025).
- Jangan langsung bilang "Ya"
Mulai sekarang, jika ada yang meminta bantuan, beri jeda dengan menjawab: "Aku cek jadwal/kapasitas aku dulu ya, nanti aku kabari lagi sejam lagi." Ini memberi waktu bagi otakmu untuk berpikir jernih tanpa tekanan (FEB UGM, 2025).
Blokir waktu khusus di kalender HP-mu untuk istirahat, hobi, atau mengerjakan tugas pribadimu. Waktu ini tidak boleh diganggu oleh permintaan mendadak dari orang lain (Halodoc, 2025).
- Pasang Batasan Waktu (Time Limit)
Saat kamu memutuskan untuk membantu, kamulah yang memegang kendali atas waktumu. Contoh: "Aku bisa bantu beresin berkas ini, tapi cuma bisa sampai jam 5 sore ya, karena setelah itu aku ada urusan lain."
- Latihan Bilang "Tidak" Secara Asertif
Ingat, menolak adalah hakmu. Kamu bisa menolak dengan sopan, kok. Cukup katakan: "Maaf banget ya, untuk saat ini kapasitas/waktu aku lagi penuh, jadi belum bisa bantu." (FEB UGM, 2025).
Menjadi "Si Paling Baik" untuk semua orang hanya akan membuat kita berakhir sebagai "Si Paling Berkorban" yang kehilangan diri sendiri. Hubungan yang sehat justru lahir ketika kita bisa peduli pada orang lain tanpa harus merugikan diri sendiri.
Apabila kamu kesulitan menetapkan batasan diri yang sehat dan terus terjebak dalam lingkaran people pleasing, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Melalui layanan konseling psikologi di grome.id, kamu akan dibantu untuk memahami akar kecemasanmu, membangun komunikasi yang asertif, serta belajar mencintai diri sendiri dengan cara yang jauh lebih sehat.
Jadi, sayangi dirimu sendiri, Gromers! Kalau bukan kita yang menjaga diri sendiri, siapa lagi?
Referensi:
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. (2025, October 3). Dampak people pleaser terhadap kesehatan mental. https://feb.ugm.ac.id/id/berita/dampak-people-pleaser-terhadap-kesehatan-mental
Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya. (2026, March 20). MINDSET: Sulit menolak? Bisa jadi itu tanda kamu people pleaser. https://psikologi.unesa.ac.id/post/mindset-sulit-menolak-bisa-jadi-itu-tanda-kamu-people-pleaser
Tanghana, M. S., Mage, M. Y. C., & Ratu, F. (2025). Pengaruh attachment style terhadap kecenderungan perilaku people pleasing pada mahasiswa di Kota Kupang. Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi, 24(1), 73–83. https://doi.org/10.24167/psidim.v24i1.3639
Marthasya, A., Abdullah, M. N. A., & Mujayapura, M. R. R. (2025). Perfeksionisme: Penyebab mental Gen Z menjadi people pleasure. SABANA (Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara), 4(1), 130–138. https://doi.org/10.55123/sabana
Halodoc. (2025, November 21). Mengenal people pleaser: Ciri, dampak, dan cara mengatasinya. https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-people-pleaser-ciri-dampak-dan-cara-mengatasinya