Pernah nggak sih kamu merasa, semakin lama kamu dekat atau berhubungan dengan seseorang, perlahan-lahan kamu justru makin tidak kenal diri kamu sendiri?
Di awal hubungan, semuanya terasa indah. Ada dorongan kuat untuk memberikan yang terbaik demi membahagiakan pasangan. Tanpa sadar, kita mulai menyesuaikan hidup kita dengan hidup pasangan. Mulai dari jadwal harian yang mengikuti agendanya, gaya berpakaian yang disesuaikan dengan seleranya, hingga hobi pribadi yang ditinggalkan demi melakukan hal-hal yang dia sukai. Gen Z sering menyebut fenomena ini dengan istilah "bucin" (budak cinta). Kita melakukannya tanpa rasa berat hati karena saat sedang jatuh cinta, rasanya memang cuma perasaan dan kenyamanan pasangan yang paling penting di dunia ini.
Namun, pernahkah kamu berhenti sejenak dan bertanya pada dirimu sendiri: Kalau semua hal yang kamu lakukan berpusat pada dia, lalu di mana dirimu yang sebenarnya? Kita tidak tahu lagi apa yang benar-benar kita sukai, karena semua hal sudah terbiasa berpusat pada orang lain, yakni pasangan kita.
Mari Bahas Lewat Film Spiderman: Brand New Day!
Dinamika ini tergambar jelas dalam film Spiderman terbaru, yaitu Spider-Man: Brand New Day. Film yang keluar di tahun 2026 ini bukan hanya menceritakan aksi heroik Spiderman, melainkan juga beban emosional Peter Parker (Spider-Man) dalam menjalani keputusan berat dalam hidupnya demi melindungi keselamatan orang-orang yang paling dia cintai, seperti sahabat dan mantan kekasihnya. Lewat sebuah mantra, ia membuat seluruh dunia, termasuk orang-orang terdekatnya, melupakan siapa identitas aslinya sebagai Peter Parker. Peter memilih hidup sendirian, mengisolasi diri, dan menanggung beban emosional yang sangat berat tanpa dukungan dari siapa pun. Niat Peter memang sangat mulia. Namun, lama-kelamaan, ia justru terjebak dalam rasa cemas yang parah dan kesepian yang mendalam.

Banyak dari kita yang tanpa sadar menjalani hubungan persis seperti Peter Parker. Kita memilih "menutup identitas asli" demi menjaga kenyamanan pasangan atau menghindari konflik. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah kurangnya diferensiasi diri (poorly differentiated self) (The Bowen Center for the Study of the Family, 2025). Menurut Bowen (1978), orang yang memiliki diferensiasi diri yang rendah sangat bergantung pada penerimaan dan persetujuan dari orang lain Akibatnya, mereka akan dengan cepat mengubah apa yang mereka pikirkan, katakan, dan lakukan hanya demi menyenangkan orang lain atau menghindari penolakan (The Bowen Center for the Study of the Family, 2025). Ironisnya, menutup diri demi kenyamanan pasangan justru bikin kita tersiksa dan hidup dalam kebingungan. Dan kalau suatu saat orang itu pergi, kita bisa benar-benar tersesat karena sudah lupa siapa diri kita tanpa kehadirannya
Ciri-Ciri "Kehilangan Diri" dalam Hubungan
Berdasarkan Differentiation of Self Inventory, kurangnya diferensiasi diri dapat mewujud dalam beberapa bentuk respon: (Lampis et al., 2018):
- Fusion with Others (Peleburan dengan Orang Lain)
Seseorang menjadi terlalu larut secara emosional dalam hubungan, cemas kalau sendirian, hingga batas antara "Aku" dan "Kita" dalam hubungan jadi kabur. Contohnya: tidak bisa memutuskan hal sekecil apa pun, mau makan apa, nonton apa, tanpa "izin" atau persetujuan pasangan lebih dulu.
- Emotional Reactivity (Reaktivitas Emosional)
Memiliki kecenderungan untuk merespons hal-hal yang memicu stres, baik dari dalam maupun luar diri, dengan gejolak emosi yang intens dan kurang rasional. Misalnya: pasangan telat balas chat sebentar, dan kamu langsung berasumsi dia marah atau ingin putus.
- Emotional Cut-off (Pemutusan Emosional)
Seseorang mengelola kecemasan dengan cara menarik diri secara fisik atau emosional, atau berpura-pura sangat mandiri padahal sebenarnya cuma takut dekat dan terluka.