Mengapa Jadi Dewasa Terasa Melelahkan?
mengapa-jadi-dewasa-terasa-melelahkan

Mengapa Jadi Dewasa Terasa Melelahkan?

Menjadi Dewasa Ternyata Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan. 

Waktu masih kecil, hidup rasanya sederhana. Ada jadwal sekolah, ada aturan dari orang tua, ada guru yang memberi tahu apa yang harus dikerjakan, bahkan ada target yang sudah ditentukan. Pada masa itu, kita justru sering merasa terkekang. Kita tidak sabar ingin cepat dewasa karena berpikir kebebasan adalah hal paling menyenangkan. 

Lalu tibalah usia 20-an... 

Ternyata yang datang bukan hanya kebebasan, tetapi juga kebingungan. Tidak ada lagi yang benar-benar memberi tahu jalan mana yang harus dipilih. Kita harus menentukan sendiri jurusan hidup, pekerjaan, hubungan, pertemanan, bahkan nilai hidup yang ingin kita pegang. Setiap pilihan terasa penting karena setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Semakin bebas kita mengambil keputusan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita pikul. 

Mungkin untuk pertama kalinya kita benar-benar menyadari bahwa menjadi dewasa bukan tentang memiliki semua jawaban, melainkan tentang belajar hidup di tengah banyak pertanyaan. Kalau dipikir-pikir, ini juga pertama kalinya kita berusia 20-an. Tidak ada yang benar-benar ahli menjalani fase ini. Wajar kalau kita masih mencoba mengenal diri sendiri, mencari prinsip hidup, menentukan batasan, dan menemukan versi diri yang paling sesuai. 

Fase Emerging Adulthood 

Dalam psikologi, fase transisi pendewasaan pada usia 18–29 tahun dikenal sebagai emerging adulthood yang ditandai oleh lima karakteristik utama, yaitu eksplorasi identitas, instabilitas, fokus pada diri sendiri, perasaan "di antara" masa remaja dan dewasa, serta terbukanya berbagai kemungkinan hidup (Arnett, 2000). Artinya, jika akhir-akhir ini kamu merasa bingung, tidak yakin dengan pilihan hidup, atau merasa semua orang terlihat lebih "siap" dibanding dirimu, mungkin kamu tidak sedang gagal. Kamu sedang menjalani fase perkembangan yang memang penuh eksplorasi. 

Fase transisi menuntut kita untuk mengambil banyak keputusan tanpa ada aturan pasti yang dapat menyebabkan kelelahan (Permana, 2025). Kelelahan mental ini dikenal sebagai Quarter-Life Crisis (QLC), yaitu kondisi ketika seseorang merasa cemas, bingung, kehilangan arah, atau mempertanyakan berbagai aspek kehidupannya.



Apa Penyebab Fase Ini Terasa Berat? 

  • Instabilitas Bukan Berarti Kegagalan 
Pada masa emerging adulthood, kehidupan memang secara alami belum stabil. Banyak orang sedang berpindah pekerjaan, mencoba berbagai hubungan, berpindah tempat tinggal, hingga mencari identitas diri. Arnett (2000, dalam Maharani & Jaro'ah, 2025) menjelaskan bahwa eksplorasi yang intens pada berbagai aspek kehidupan merupakan ciri utama fase ini. Karena itu, rasa bahwa hidup "belum menetap" bukanlah tanda kegagalan. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi alami dari proses pencarian arah hidup (Usmi et al., 2025). 

  • Tanggung Jawab Bertambah, Dukungan Berkurang 
Semakin dewasa, semakin banyak keputusan yang harus diambil sendiri. Kita mulai bertanggung jawab atas pendidikan, pekerjaan, keuangan, hingga hubungan interpersonal. Sayangnya, pada saat yang sama dukungan yang sebelumnya banyak diberikan orang tua atau lingkungan mulai berkurang. Penelitian Permana (2025) menunjukkan bahwa fase dewasa awal menuntut individu memikul konsekuensi atas keputusan yang diambilnya sendiri. Tekanan tersebut akan terasa semakin berat apabila seseorang merasa tidak memiliki dukungan emosional yang konsisten dari keluarga maupun orang-orang terdekat (Maharani & Jaro'ah, 2025). 

  • Ketidakpastian Memicu Stres 
Salah satu sumber stres terbesar pada usia dewasa awal adalah ketidakpastian. 
"Apakah aku sudah memilih pekerjaan yang tepat?" 
"Bagaimana kalau semua keputusan ini salah?" 
"Kenapa teman-temanku terlihat lebih berhasil?" 

Penelitian Novita dan Rahayu (2023) menemukan bahwa individu yang sulit menerima ketidakpastian cenderung mengalami psychological distress yang lebih tinggi, termasuk kecemasan dan depresi. Semakin kita berusaha mengontrol masa depan yang memang belum pasti, semakin besar energi mental yang terkuras.


Lalu, Bagaimana Menghadapinya? 

Fase Quarter-Life Crisis bukan sesuatu yang harus dihindari. Fase ini justru dapat menjadi momentum untuk bertumbuh apabila dihadapi dengan cara yang tepat. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melalui rumus GROWTH

  • G – Growth Initiative 
Mulailah inisiasi mengambil langkah kecil untuk berkembang, misalnya memperluas wawasan. Individu yang memiliki personal growth initiative terbukti mampu mengurangi dampak intoleransi terhadap ketidakpastian sehingga psychological distress menjadi lebih rendah (Balqis et al., 2023). Daripada terus menunggu hidup terasa pasti, lebih baik mulai melangkah ke depan! 

  • R – Rely on Your Capability 
Kenali kemampuan diri dan bangunlah keyakinan terhadap kemampuan itu! 
Efikasi diri yang tinggi membuat seseorang lebih percaya bahwa dirinya mampu menghadapi tantangan hidup. Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi efikasi diri seseorang, semakin rendah kecenderungannya mengalami Quarter-Life Crisis (Laurenza & Rahayu, 2024). Dengan efikasi diri yang tinggi, kamu menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi tekanan dan mampu melihat kesulitan sebagai tantangan yang bisa diatasi. 

  • O – Own the Uncertainty 
Menerima ketidakpastian bukan berarti menyerah, melainkan berhenti memaksa hidup berjalan harus sesuai rencana kita. Penelitian Aprodita (2021) menunjukkan bahwa intoleransi terhadap ketidakpastian berperan signifikan terhadap munculnya depresi pada dewasa awal. Sering kali, arah hidup terbaik justru muncul dari rencana yang tidak pernah kita buat sebelumnya. 

  • W – Widen Your Support Network 
Kita memang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri, tetapi bukan berarti harus menjalaninya sendirian. Dukungan sosial dari keluarga, teman, pasangan, maupun komunitas menjadi faktor pelindung yang sangat penting dalam menghadapi Quarter-Life Crisis. Penelitian Hasyim et al. (2026) menunjukkan bahwa dukungan sosial mampu menjelaskan hingga 53,9% variasi tingkat Quarter-Life Crisis pada mahasiswa. 

  • T – Treat Yourself with Compassion 
Bersikap baiklah pada diri sendiri yang menjalani fase berat ini. Self-compassion terbukti berkontribusi terhadap kestabilan emosi dalam menghadapi Quarter-Life Crisis (Nur'Aini & Rahmasari, 2025). Bersikap baik pada diri sendiri bukan berarti menjadi lemah, tetapi menerima bahwa dirimu sedang belajar menjalani hidup untuk pertama kalinya. 

  • H – Have a Direction 
Memiliki arah bukan berarti kamu harus merencanakan seluruh masa depanmu dari sekarang. Penelitian Habibie et al. (2023) menemukan bahwa menyadari nilai atau tujuan kecil yang sedang dijalani (presence of meaning) terbukti signifikan meredakan Quarter-Life Crisis. Cukup tahu nilai apa yang ingin kamu pegang dan satu langkah kecil apa yang bisa kamu ambil hari ini untuk mencapai nilai tersebut. 

Menjadi Dewasa Berarti Menerima Perubahan 

Menjadi dewasa berarti menerima bahwa hidup akan selalu berubah. Tidak ada jalan yang benar-benar lurus, tidak ada keputusan yang sepenuhnya bebas risiko, dan tidak ada orang yang memiliki semua jawaban. Yang bisa kita lakukan adalah terus mengenal diri, berani mengambil keputusan, menerima konsekuensinya, lalu bertumbuh dari setiap pengalaman yang datang. Ingat bahwa kamu selalu punya kendali dalam merespons dan menentukan langkah hidupmu, Gromers! 

Apabila kamu kesulitan melewati fase ini sendirian, kamu dapat menghubungi grome.id untuk mendapatkan bantuan profesional.


Referensi
  • Aprodita, N. P. (2021). Peran Intolerance of Uncertainty terhadap Depresi pada Individu Dewasa Awal. Humanitas 5(2), 179–196.

  • Balqis, A. I., Karmiyati, D., Suryaningrum, C., & Akhtar, H. (2023). Quarter-life crisis: Personal growth initiative as a moderator of uncertainty intolerance in psychological distress. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, 8(1), 19–34.

  • Habibie, A., Sholichatun, Y., & Tri Rahayu, I. (2023). The role of life meaningfulness on the quarter-life crisis of university students in Indonesia’s new capital. INSPIRA: Indonesian Journal of Psychological Research, 4(2), 123–133. https://doi.org/10.32505/inspira.v4i2.6894

  • Hasyim, F. F., Ikromi, Z. A., & Givency, S. (2026). The Effect of Social Support on the Quarter-Life Crisis Among College Students in Bandung. Eudaimonia Journal Psychology, 3(1).

  • Laurenza, H., & Rahayu, M. N. M. (2024). Importance of self-efficacy in overcoming quarter-life crisis among fresh graduates. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 12(3), 312–318. https://doi.org/10.30872/psikoborneo.v12i3.15278

  • Maharani, E. N., & Jaro’ah, S. (2025). Terjebak di Transisi: Menguak Peran Dukungan Sosial Sebagai Penyangga Stres Karier Pada QLC Mahasiswa. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 12(03), 1103-1113.

  • Novita, P., & Rahayu, M. N. M. (2023). Intolerance of Uncertainty dan Psychological Distress yang dialami Mahasiswa Angkatan Pertama pada Program Studi yang Baru didirikan. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 11(1), 124-130.

  • Nur’Aini, A., & Rahmasari, D. (2025). Pengaruh Self-Compassion Terhadap Quarter Life Crisis. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 12(02), 870-882.

  • Usmi, R. S., Hasibuan, S. J., Elkhalista, A., Harahap, T. A., & Miftahuddin. (2025). Faktor Penyebab Quarter life crisis Di Kalangan Mahasiswa. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 12(01), 262-274.