Gimana Pembagian Pekerjaan Rumah Tangga yang Adil?
gimana-pembagian-pekerjaan-rumah-tangga-yang-adil-

Gimana Pembagian Pekerjaan Rumah Tangga yang Adil?

Bayangkan seorang istri sedang menyiapkan makan malam, yang terlihat hanyalah proses memasak dan makanan yang sudah tersaji di meja. Padahal… jauh sebelum itu ada proses berpikir yang panjang: memikirkan menu, mengecek stok bahan makanan, membuat daftar belanja, menentukan kapan harus berbelanja, mengingat kebutuhan anggota keluarga, hingga memastikan semuanya selesai tepat waktu sebelum jam makan malam tiba. Semua pekerjaan itu tidak terlihat. Tidak mengeluarkan keringat. Bahkan sering kali tidak dianggap sebagai "pekerjaan". Padahal justru proses berpikir itulah yang menghabiskan energi mental paling besar. Kalau kamu pernah merasa lelah mengurus segala hal meski pasangan juga membantu, simak penjelasan di bawah ini! 

Apa itu Cognitive Labor? 

Dalam psikologi dan sosiologi keluarga, proses ini dikenal sebagai cognitive labor. Menurut Daminger (2024), cognitive labor merupakan seluruh proses mental yang berlangsung sebelum sebuah pekerjaan atau aktivitas dilakukan. Proses ini mencakup kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan sebelum masalah muncul (anticipating), mencari berbagai alternatif solusi (identifying), memilih keputusan terbaik dari berbagai solusi (deciding), dan memastikan keputusan tersebut berjalan dengan baik serta mengevaluasi hasilnya (monitoring).



Mengapa Hal Ini Sering Menjadi Konflik? 

Penelitian Daminger (2024) terhadap puluhan pasangan menunjukkan bahwa dalam banyak rumah tangga, perempuan cenderung memikul porsi cognitive labor yang lebih besar. Bukan berarti pasangan tidak membantu. Banyak pasangan ikut mencuci piring, mengantar anak sekolah, atau membuang sampah. Namun, siapa yang pertama kali sadar stok susu hampir habis? Siapa yang mengingat jadwal imunisasi anak? Siapa yang memikirkan menu seminggu ke depan atau mencari tukang ketika keran bocor? 

Sering kali, semua proses berpikir tersebut berada pada orang yang sama. Akibatnya, pembagian tugas terlihat seimbang dari luar, padahal pembagian beban mental belum tentu sama. Kondisi ini dapat memunculkan kelelahan mental, rasa tidak dihargai, hingga konflik yang sebenarnya bukan disebabkan oleh banyaknya pekerjaan fisik, melainkan karena beban berpikir yang tidak pernah berhenti. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian Elizabeth Aviv (2024) menemukan bahwa kerja kognitif dan emosional yang berlebihan dapat memperburuk kondisi mental seseorang, termasuk berkaitan dengan depresi, stres, dan burnout.


Bagaimana Membagi Tugas secara Adil? 

Menurut Daminger (2024), hubungan yang lebih setara bukan tercipta karena semua tugas dibagi 50:50, melainkan karena kedua pasangan sama-sama mengambil tanggung jawab terhadap pekerjaan yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Lakukan 4 cara ini: 
  • Bangun Visi bersama Sejak Awal Pernikahan 
Sebelum membagi tugas, bicarakan terlebih dahulu seperti apa rumah tangga yang ingin kalian bangun. Menyepakati nilai, prioritas, dan hal-hal yang tidak bisa ditawar akan membantu pasangan mengambil keputusan yang selaras, bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau peran gender yang sudah terbentuk (Daminger, 2024). 

  • Bagi Tanggung Jawab sejak Tahap Berpikir, Bukan Hanya saat Mengerjakan 
Pembagian peran yang sehat tidak hanya menentukan siapa yang melakukan aktivitasnya, tetapi juga siapa yang mengingat, merencanakan, mengambil keputusan, dan memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Dengan begitu, beban mental tidak bertumpu pada satu orang saja (Daminger, 2024). 

  • Bangun Sistem yang Disepakati Bersama 
Daminger (2024) dan pasangannya membagi seluruh tanggung jawab rumah tangga dalam sebuah spreadsheet. Kamu bisa menggunakan metode lainnya yang cocok untukmu dan pasangan! 
 
  • Bersedia untuk Mencoba dan Belajar Terus-Menerus 
Tidak ada pembagian tugas yang langsung sempurna. Seiring perubahan kondisi pekerjaan, kehadiran anak, atau tuntutan hidup lainnya, pasangan perlu terbuka untuk mencoba cara baru, melakukan penyesuaian, dan memperbaiki sistem yang belum berjalan dengan baik. Hubungan yang setara bukan dibangun dalam satu kali diskusi, melainkan melalui proses yang terus dievaluasi bersama (Daminger, 2024).

Rumah tangga bukan tentang siapa yang bekerja lebih banyak, melainkan bagaimana dua orang bersedia menjadi satu tim. Ketika beban fisik dan beban mental sama-sama dibagi, hubungan tidak hanya terasa lebih adil, tetapi juga lebih sehat dan berkelanjutan. Apabila kamu dan pasangan kesulitan membangun pembagian tugas yang sesuai, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Melalui layanan Marriage Counseling di grome.id, kamu dan pasangan dapat dibantu memetakan sumber konflik, memahami dinamika hubungan, serta membangun kerja sama yang lebih sehat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Yuk, mulai obrolan jujur tentang cognitive load bersama pasanganmu!


Referensi: