Pacar : Satu Peran, Banyak Tuntutan. Yuk, Simak Peran yang Sebenarnya!
pacar-bukan-segalanya-yuk-kenali-jaringan-dukungan-dalam-hidupmu-selain-pacar

Pacar Bukan Segalanya. Yuk, Kenali Jaringan Dukungan dalam Hidupmu (Selain Pacar)!

Pernahkah kamu menganggap pasanganmu adalah segalanya, Gromers? 

Pacar sekaligus sahabat, teman cerita, teman nongkrong, teman makan, atau bahkan sosok yang selalu harus ada saat kita membutuhkan dukungan. Sekilas terdengar romantis. Namun, tanpa disadari ekspektasi itu bisa berkembang menjadi tuntutan yang semakin besar. Ketika pasangan tidak mampu memenuhi semuanya, kita mulai merasa kecewa, marah, atau menganggap mereka kurang peduli. Padahal, mungkin masalahnya bukan pada pasangan kita, melainkan pada ekspektasi yang kita bangun terhadap satu orang. 


Mengapa Kita Bisa Berpikir Seperti Ini?

Di era sekarang, hubungan romantis sering kali menjadi "jawaban" atas berbagai kebutuhan emosional. Saat merasa kesepian, kita mencari pacar. Saat sedang terpuruk, kita ingin pasangan menjadi tempat bersandar. Saat butuh teman, kita menghubungi pasangan. Lama-kelamaan, tanpa sadar kita mulai mencari "paket lengkap" dalam diri satu orang.


Manusia Tidak Dirancang Bergantung pada Satu Orang

Dalam psikologi, Convoy Model yang dikembangkan oleh Kahn dan Antonucci (1980) serta dikembangkan lebih lanjut oleh Antonucci, Ajrouch, dan Birditt (2014) menjelaskan bahwa setiap orang memiliki social convoy, yaitu jaringan orang-orang yang berjalan bersama kita sepanjang hidup.

Model ini digambarkan dalam tiga lingkaran konsentris berdasarkan tingkat kedekatan emosional. 

  • Lingkaran terdalam berisi orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti pasangan, orang tua, atau sahabat yang selalu menjadi tempat kita merasa aman. 

  • Lingkaran kedua berisi orang-orang yang tetap penting dalam hidup, tetapi intensitas hubungannya tidak sedekat lingkaran pertama, misalnya saudara, teman dekat, atau rekan kerja tertentu. 

  • Lingkaran terluar berisi orang-orang yang mungkin tidak sering berinteraksi dengan kita, tetapi tetap dapat memberikan dukungan dalam situasi tertentu, seperti mentor, dosen, tetangga, komunitas, atau kolega.



Yang menarik, Convoy Model menjelaskan bahwa setiap hubungan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ada yang memberikan dukungan emosional, ada yang membantu secara praktis, ada yang menjadi tempat berdiskusi, ada pula yang mendorong perkembangan diri. Selain itu, setiap hubungan juga berbeda dalam berbeda dalam tingkat kedekatan, frekuensi interaksi, kualitas hubungan, maupun fungsi yang diberikan. Dengan kata lain, tidak ada satu orang pun yang dirancang untuk memenuhi seluruh kebutuhan sosial dan psikologis kita sekaligus, termasuk pasangan.


Ketika Pasangan Menjadi Satu-Satunya Tempat Bersandar

Dampak yang bisa terjadi antara lain:

  1. Ketergantungan yang tinggi

Ketika kita hanya mengandalkan pasangan dan perlahan menjauh dari sumber dukungan lain, convoy sosial kita menjadi semakin sempit. Saat pasangan sedang sibuk, memiliki masalah pribadi, atau terjadi konflik dalam hubungan, kita merasa kehilangan hampir seluruh sumber dukungan yang kita miliki. Kondisi ini dapat meningkatkan kecemasan, kebutuhan validasi yang berlebihan, hingga kecenderungan menjadi lebih posesif terhadap pasangan. 

  1. Satu Orang Tidak Bisa Memenuhi Semua Kebutuhan

Banyak orang mengira bahwa jika pasangan benar-benar mencintai kita, mereka akan mampu memenuhi semua kebutuhan kita. Padahal, masalahnya bukan pada seberapa besar rasa cinta tersebut. Misalnya, ketika kita membutuhkan pandangan terkait karier, sumber yang lebih tepat bisa jadi adalah mentor atau dosen yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidang tersebut. Ketika membutuhkan perspektif mengenai masalah keluarga, mungkin anggota keluarga lain yang memahami konteks hubungan tersebut dapat memberikan masukan yang lebih relevan. Artinya, bukan karena pasangan kita kurang baik, melainkan karena satu orang memang tidak dirancang untuk memenuhi seluruh dimensi convoy sosial dan psikologis seseorang.

  1. Pasangan Menjadi Terbebani

Mereka dapat merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi harapan kita, merasa lelah karena terus berusaha hadir dalam setiap kebutuhan kita, atau bahkan merasa gagal ketika melihat kita tetap tidak puas meskipun mereka sudah berusaha maksimal. Lama-kelamaan, hubungan dapat dipenuhi rasa frustrasi dan kelelahan emosional. Bukan karena kurang cinta, melainkan karena ekspektasi yang dibebankan kepada hubungan tersebut terlalu besar untuk dipenuhi oleh satu orang.




Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan?

  1. Lihat Siapa Saja yang Menjadi Tempatmu Bersandar

Coba petakan tiga lingkaran konsentris.

  • Pada lingkaran paling dalam, tuliskan orang-orang yang paling dekat dan paling sering menjadi tempatmu bergantung secara emosional. 

  • Pada lingkaran kedua, tuliskan orang-orang yang tetap penting meskipun tidak selalu hadir setiap hari. 

  • Pada lingkaran terluar, tuliskan orang-orang yang mungkin jarang berinteraksi, tetapi tetap memberi dukungan ketika dibutuhkan, seperti mentor, dosen, komunitas, atau rekan kerja.

Setelah itu, coba refleksikan: apakah hampir seluruh lingkaran terdalam hanya berisi pasangan? Jika iya, mungkin sudah waktunya kamu memperkuat hubungan dengan teman, keluarga, atau orang-orang lain yang juga menjadi bagian dari social convoy dalam hidupmu! 

  1. Bangun hubungan yang berkualitas, Bukan Sekadar Banyak Relasi

Kamu tidak perlu memiliki banyak teman. Yang jauh lebih penting adalah memiliki beberapa hubungan yang hangat, saling percaya, dan membuatmu merasa aman. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas hubungan jauh lebih berpengaruh terhadap kesejahteraan dibanding jumlah relasi yang dimiliki.

  1. Investasikan Waktu dan Energi pada Teman, Keluarga, dan Komunitas

Menyapa teman lama, meluangkan waktu bersama keluarga, atau sekadar menanyakan kabar dapat memperkuat jaringan dukungan yang suatu saat akan menjadi kekuatan kamu ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Karena hubungan yang sehat tidak dibangun ketika kita sedang membutuhkan bantuan, tetapi dipelihara jauh sebelum masa sulit datang. 

  1. Temukan Identitas, Minat, dan Kebahagiaan Sendiri

Ketika kebahagiaanmu tidak hanya bergantung pada hubungan, kamu akan lebih mampu menjalani relasi dengan sehat, tanpa rasa takut kehilangan atau kebutuhan untuk terus-menerus mencari validasi dari pasangan. 


Pasangan memang dapat menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup kita. Namun, mereka tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi segalanya. Hubungan romantis yang sehat bukanlah hubungan yang membuat dua orang menutup diri dari dunia luar. Sebaliknya, hubungan yang sehat terjadi ketika dua individu yang memiliki jaringan sosial masing-masing dan tetap memilih untuk saling mendukung, bertumbuh bersama, serta menjadi bagian penting dalam kehidupan satu sama lain.


Bila kamu dan pasangan merasa kesulitan keluar dari pola hubungan yang saling bergantung secara berlebihan, tidak ada salahnya meminta bantuan profesional. Melalui layanan Dating Counseling dan Marriage Counseling dari grome.id, kamu dan pasangan bisa dibantu untuk mengenali kebutuhan emosional masing-masing dan memahami perbedaan sumber kebutuhan tersebut.



Referensi
Antonucci, T. C., Ajrouch, K. J., & Birditt, K. S. (2014). The convoy model: Explaining social relations from a multidisciplinary perspective. The Gerontologist, 54(1), 82–92. https://doi.org/10.1093/geront/gnt118