“Pernahkah kamu merasa lebih sensitif, mudah gelisah, atau bahkan cemas saat menjalani puasa?”
Bulan Ramadhan sering digambarkan sebagai waktu yang menenangkan di mana suasana lebih religius, ritme hidup melambat, dan ada banyak kesempatan untuk refleksi diri. Salah satu praktik utama di bulan ini adalah puasa. Dalam literatur fikih, puasa diartikan sebagai menahan diri dari makan, minum, serta berbagai hal yang membatalkannya sejak fajar hingga matahari terbenam, disertai menjaga ucapan dan perilaku (Rahmi, 2015).
Pengalaman menjalani puasa tidak selalu sama pada setiap orang. Banyak yang merasakan peningkatan kontrol diri, makna spiritual, serta kesejahteraan psikologis (Wang & Wu, 2022). Penelitian lain juga menunjukkan puasa dapat membantu menurunkan kecemasan dan depresi serta meningkatkan suasana hati (Nair & Khawale, 2016).
Dalam konteks sosial, puasa juga dapat menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama. Aktivitas berbagi selama Ramadan diketahui berkaitan dengan munculnya emosi positif dan rasa kebermaknaan hidup. (Fadillah, 2025).
Namun, ada penelitian yang menyatakan puasa jangka pendek dapat meningkatkan emosi negatif seperti kecemasan, iritabilitas, dan kelelahan. Penurunan suasana hati ini seringkali berkaitan dengan distraksi dan usaha mental selama berpuasa, bukan hanya karena rasa lapar (Wang & Wu, 2022).
Hal ini bukan berarti puasanya “keliru” ya, melainkan bagian dari proses memahami diri selama menjalani ibadah.
Mengapa Emosi Bisa Terasa Lebih Jelas Saat Puasa?
Dalam keseharian, emosi sering tertutup oleh rutinitas, kesibukan, hiburan, atau distraksi. Biasanya ketika merasa tidak nyaman kita langsung mengalihkan perhatian dengan makan atau mencari hiburan duniawi. Dengan adanya puasa, distraksi tersebut berkurang sehingga banyak emosi mulai terdengar. Kadang yang muncul bukan ketenangan terlebih dahulu, melainkan kesadaran terhadap apa yang selama ini tersimpan di dalam diri.
Dalam perspektif psikologi, kondisi “sadar” ini sering dikaitkan dengan mindfulness, yaitu kemampuan untuk hadir secara sadar pada pengalaman yang sedang terjadi, baik pada tubuh, pikiran, maupun emosi. Saat menjalani puasa, ritme hidup berubah. Pola makan, energi, aktivitas, hingga kebiasaan sehari-hari ikut menyesuaikan. Proses ini menuntut adaptasi mental sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap diri sendiri (Mailani, 2026).
Mindfulness membantu seseorang memperhatikan apa yang terjadi di dalam dirinya tanpa langsung bereaksi. Saat rasa lapar, lelah, atau emosi muncul, seseorang belajar meresponsnya secara lebih sadar, bukan secara impulsif (Mailani, 2026). Dari kondisi inilah mindfulness membantu mengenali emosi (emotional awareness), menerima emosi tanpa menolak, serta tidak melampiaskan emosi ke perilaku negatif.
Selain faktor psikologis, perubahan fisik dalam tubuh juga ikut memengaruhi emosi selama berpuasa. Regulasi emosi manusia berkaitan dengan ketersediaan energi di otak. Kadar glukosa yang rendah akibat puasa diketahui berhubungan dengan meningkatnya kecemasan, iritabilitas, dan kesulitan mengontrol emosi (Wang & Wu, 2022). Puasa juga memicu perubahan pada hormon dan neurotransmitter seperti serotonin dan endorfin yang berkaitan dengan suasana hati dan kesejahteraan psikologis (Wang & Wu, 2022).