“Aku rela mati demi kamu” terdengar begitu romantis ketika dilontarkan oleh pasangan.
Seolah-olah kesediaan untuk menyerahkan nyawa adalah puncak tertinggi dari pembuktian cinta. Namun, jika melihat kehidupan yang sedang dijalani, apakah kamu rela tetap hidup dengan sungguh-sungguh merawat hidupmu demi pasanganmu?
Manusia cenderung membayangkan pengorbanan besar daripada melakukan kebaikan kecil yang konsisten setiap harinya. Ini bukan perihal gaya hidup sempurna atau ideal, tetapi merawat diri sebagai bentuk cinta kepada orang yang kamu cintai. Kita merasa bahwa pola makan yang berantakan, kurangnya gerak, jam tidur yang kacau karena begadang yang sia-sia, atau kebiasaan buruk lainnya adalah “urusan sendiri”. Kita merasa bahwa tubuh ini adalah milik kita sepenuhnya, dan konsekuensi atas kerusakannya pun hanya akan kita tanggung sendiri. Sampai suatu hari, penyakit mulai mendatangi tubuh kita. Siapa yang akan terjaga di samping tempat tidur rumah sakit? Siapa yang energinya akan terkuras untuk mengurus kepentingan di rumah sakit? Siapa yang secara emosional akan hancur melihat orang yang dicintainya sakit?
Pasangan akan turun tangan dalam merawat kita, memberikan pengorbanan energi, emosional, finansial, dan lainnya dengan penuh kasih. Pasangan yang merawat tentu tidak salah karena itu adalah wujud cinta mereka. Namun, pertanyaannya: Apakah membiarkan diri kita menjadi beban yang seharusnya tidak perlu adalah bentuk kasih sayang kita kepada mereka? Karena faktanya, kesehatan kita tidak hanya menjadi urusan pribadi tetapi berdampak langsung pada kehidupan orang-orang yang paling dekat dengan kita termasuk pasangan.

Menurut Erich Fromm dalam The Art of Loving (1956), cinta bukan sekadar perasaan pasif, melainkan sebuah seni aktif yang membutuhkan disiplin dan kepedulian yang sungguh-sungguh. Salah satu elemen dasarnya adalah care, yakni kepedulian aktif terhadap pertumbuhan dan kesejahteraan orang yang kita cintai. Maka, menjaga kesehatan diri adalah salah satu bentuk kepedulian aktif yang paling konkret yang bisa kita berikan kepada pasangan kita. Ini bukan soal menjalani gaya hidup sempurna atau ideal, melainkan memahami bahwa pilihan kecil di setiap harinya adalah cinta yang paling nyata. Apakah akan berolahraga, apakah akan tidur cukup atau terus begadang tanpa alasan, apakah akan memilih makanan yang lebih baik atau terus mengabaikan kebutuhan tubuh? Coba jawab dalam hatimu, ya!
Rela mati demi seseorang mungkin terdengar romantis. Namun, rela hidup lebih lama dengan untuk menjalani hari tua bersama adalah cinta yang paling dewasa dan paling bertanggung jawab. Kalau kamu merasa membutuhkan ruang untuk membicarakannya lebih dalam, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Grome.id menyediakan layanan dating counseling & marriage counseling yang bisa membantumu dan pasangan bertumbuh bersama.
Referensi:
Fromm, E. (1956). The Art of Loving. Harper & Row.