Kenapa Kita Terus Jatuh Cinta dengan
kenapa-kita-terus-jatuh-cinta-dengan-orang-yang-salah

Kenapa Kita Terus Jatuh Cinta dengan "Orang Yang Salah"?

Memilih pasangan hidup adalah salah satu keputusan paling krusial yang pernah kita buat. Secara sadar, kita pasti berusaha untuk selektif demi menemukan sosok terbaik. Namun, meski sudah melihat dengan cermat dan merasa yakin bahwa "ia adalah orangnya," mengapa seringkali ceritanya berakhir sama? Kita kembali terjebak dalam rasa cinta kepada seseorang yang tidak mampu membalas perasaan dengan cara yang kita butuhkan. Fenomena yang membingungkan ini sering terjadi berulang kali, namun ternyata ada alasan di balik pola tersebut. Yuk, simak alasannya!

Pengaruh Hormon Biologis

Jatuh cinta terjadi dalam tiga fase berbeda (Mount Elizabeth Hospitals (2020), Dimulai dari fase nafsu yang didorong oleh hormon testosteron dan estrogen dimana kita tertarik secara fisik terhadap seseorang. Kemudian masuk ke fase ketertarikan. Di sinilah otak melepaskan campuran dopamin yang memicu kesenangan, adrenalin yang membuat jantung berdebar, serta norepinefrin yang memaksa kita fokus secara tak terkendali pada objek cinta kita, yakni pasangan kita. 

Inilah alasan mengapa seseorang yang sebenarnya biasa saja bisa terasa begitu istimewa hingga membuat kita terjaga sampai jam 2 pagi hanya untuk memandangi fotonya (Nanda, 2026; SobatASK, 2024). Kondisi ini diperkuat oleh hormon serotonin yang berfungsi menstabilkan suasana hati. Uniknya, hormon ini mampu menekan rasa lapar sehingga obrolan berjam-jam dengan pasangan terasa lebih mengenyangkan daripada sepiring nasi. Relate gak nih, Gromers?



Otak Menyukai Sesuatu yang Familiar

Pernah nggak, kamu sadar pola pasanganmu mirip-mirip dengan seseorang dari masa lalumu? Itu bukan kebetulan. Otak kita memiliki kecenderungan psikologis untuk mencari hal-hal yang familiar. Seringkali, pola pasangan kita saat ini memiliki kemiripan dengan figur dari masa lalu. 

Mengapa? Karena bagi otak, hal yang familiar terasa aman dan bisa diprediksi, meskipun itu menyakitkan. Jika seseorang tumbuh dengan figur otoritas, misalnya orang tua, yang tidak konsisten secara emosional, ia mungkin secara bawah sadar akan merasa "nyaman" dengan pasangan yang bersikap serupa: kadang terasa dekat, kadang terasa jauh. Akibatnya pasangan yang cuek dan hubungan yang penuh drama justru terasa “normal,” sedangkan hubungan sehat justru terasa asing atau membosankan. Di balik semua itu, muncul harapan: "This time, it will be different." Harapan inilah yang tanpa sadar mendorong untuk terus menciptakan ulang dinamika yang sama, berharap kali ini hasilnya berbeda (McNichols, N. K., 2024).
Dinamika Tarik Ulur: Anxious vs. Avoidant Attachment Style

Attachment style yang pertama kali dicetuskan oleh John Bowlby menggambarkan bagaimana kita belajar untuk terhubung dengan orang lain berdasarkan pengalaman awal kita dengan caregiver. Dua pola yang paling sering menciptakan hubungan penuh drama adalah seorang dengan Anxious Attachment (sangat menginginkan kedekatan dan takut ditinggalkan) dan seseorang dengan Avoidant Attachment (menjaga jarak emosional dan cenderung kabur saat hubungan mulai serius). 

Keduanya justru saling tertarik di awal. Ketertarikan ini muncul karena seseorang dengan Avoidant Attachment memulai dengan love bombing, yaitu perhatian intens di awal sehingga seseorang dengan Anxious Attachment merasa terpenuhi dari segi kebutuhan emosional. Namun, setelah hubungan semakin serius, si “Avoidant” menarik diri dan meninggalkan si “Anxious” kebingungan dan patah hati setelah hubungan sudah terjalin (McNichols, N. K., 2024). Siklus ini bisa berukang tanpa henti jika tidak disadari.



Self-Worth yang Rendah

Tingkat self-worth atau harga diri juga memegang peran kunci dalam hubungan. Bayangkan kamu sedang berdiri di titik minus, kamu merasa sama sekali tidak berharga. Dari posisi itu, seseorang di titik nol pun akan terlihat luar biasa. Saat harga diri rendah, kita cenderung sulit mengenali kebaikan yang tulus dan justru bertahan dalam hubungan toxic karena merasa itulah yang layak kita dapatkan (Gupta, 2026). Penelitian oleh Rosalinda & Michael (2019) menyatakan bahwa semakin tinggi harga diri seseorang, semakin selektif pula ia dalam menentukan kriteria pasangan hidupnya.

4 Langkah Menuju Cinta yang Sehat

Kabar baiknya, kamu bisa melakukan langkah-langkah di bawah ini dalam upaya menuju hubungan yang sehat!

  • Kenali Pola Diri dalam Hubungan
Mengenali pola adalah langkah pertama untuk memutusnya. Cobalah berhenti sejenak untuk merefleksikan: apakah ada pola konsisten di mana kamu selalu terjebak dalam dinamika "mengejar" atau merasa harus bekerja ekstra keras hanya untuk mendapatkan validasi minimal dari pasangan. Adakah pola-pola tertentu yang sebenarnya membuatmu merasa tidak nyaman dalam menjalani hubungan?

  • Visualisasikan Hubungan yang Sehat 
Bayangkan bagaimana rasanya berada di dekat pasangan idealmu. Fokuslah pada rasa aman, dihargai, dan tenang. Jika bayangan pasangan idealmu justru memicu rasa cemas, itu adalah sinyal bahwa ada yang perlu segera diperbaiki dari dalam dirimu terlebih dahulu. 

  • Tingkatkan Self-Worth! 
Investasi terbaik dalam sebuah hubungan justru terjadi saat kamu sedang fokus pada dirimu sendiri. Bangun kompetensi diri, jaga kesehatan fisik, dan latih self-talk yang lebih positif. Ketika kamu sudah merasa utuh dan berharga tanpa kehadiran orang lain, orang-orang yang "salah" akan tersaring dengan sendirinya (Gupta, 2026). 

  • Definisikan Ulang Makna "Nyaman" dan “Bosan” 
Bagi mereka yang terbiasa dengan hubungan penuh drama, hubungan yang sehat seringkali terasa "hambar" atau bahkan "membosankan". Padahal, rasa aman dan stabilitas itulah yang sebenarnya menjadi fondasi jangka panjang yang kokoh (Maharani, 2023). Berilah waktu dirimu untuk membiasakan diri dengan ketenangan.




Hubungan yang baik bukan cuma tentang menemukan orang yang tepat, tapi juga tentang menjadi versi diri yang mampu menerima cinta yang sehat. Perjalanan mengenal diri sendiri adalah salah satu investasi paling berharga yang bisa kamu mulai hari ini. Jika pola ini terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian, ingatlah bahwa kamu tidak harus berjalan sendirian. Bersama Grome.id, kamu bisa mendapatkan pendampingan profesional dari psikolog yang siap membantu menavigasi perjalananmu menuju hubungan yang lebih bahagia dan bermakna.


Referensi: