Respons Pasangan Saat Kita Bahagia Ternyata Penting!
respons-pasangan-saat-kita-bahagia-ternyata-penting-

Respons Pasangan Saat Kita Bahagia Ternyata Penting!

Selama ini, banyak orang mengira bahwa kekuatan sebuah hubungan hanya dilihat dari seberapa baik pasangan menghadapi konflik atau bertahan di masa sulit. Padahal, ada hal lain yang ternyata tak kalah krusial, yaitu bagaimana pasangan merespons kebahagiaan masing-masing. 

Bayangkan kamu baru saja mendapat kabar yang sudah ditunggu lama. Mungkin, proyekmu akhirnya diterima, atau kamu berhasil membeli sesuatu dari hasil kerja kerasmu sendiri. Refleks, kamu langsung ingin cerita ke pasangan. Lalu setelah ditunggu, balasannya: “Wah oke, bagus ya”. 
Secara kata-kata, tidak ada yang salah dari respons itu. Tapi entah kenapa, rasanya seperti ada sesuatu yang kurang. Momen yang tadinya terasa hangat tiba-tiba jadi… biasa saja. Dan ternyata, perasaan itu valid secara psikologis, lho



Capitalization: Kabar Baik Perlu Dirayakan

Cara pasangan merespons kabar baik ternyata bisa menjadi penentu kepuasan hubungan yang lebih kuat dibandingkan dengan cara pasangan menghadapi konflik (Gable et al., 2004). Konsep ini dikenal sebagai capitalization, yaitu proses ketika seseorang membagikan pengalaman positif kepada orang lain untuk memperkuat rasa bahagia yang dirasakan.  Menariknya, kebahagiaan seseorang bisa terasa lebih besar ketika dirayakan bersama oleh orang yang penting bagi mereka. Sebaliknya, respons yang dingin atau tidak antusias dapat membuat momen tersebut terasa lewat begitu saja (Gable et al., 2006). Dan lama-lama, orang cenderung enggan membagikan kabar baik kepada pasangannya ketika mereka memperkirakan akan mendapat respons yang dingin, defensif, atau tidak menghargai.

Ada 4 Cara Merespons

Gable et al. (2004) memetakan pola respons ke dalam empat kategori:
  • Active Constructive adalah respons yang paling positif dan suportif. Pasangan benar-benar hadir, antusias, dan ikut merasakan kebahagiaan kita.
        Contoh: “Serius? Ceritain dong dari awal dengan detail!
  • Passive Constructive adalah responsnya positif, tetapi minim keterlibatan emosional. Pasangan merespons dengan baik, tetapi terasa datar atau kurang antusias. 
        Contoh: “Ohh bagus deh.”
  • Active Destructive adalah pasangan yang aktif menanggapi, tetapi fokusnya justru pada sisi negatif atau kekhawatiran dari kabar baik tersebut. 
        Contoh: “Berarti nanti kamu bakal makin sibuk dong?”
  • Passive Destructive adalah respons yang menunjukkan ketidaktertarikan atau pengalihan perhatian. Pasangan cenderung mengabaikan kabar baik yang dibagikan. 
        Contoh: “Oh ya? Eh tadi aku juga mau cerita…”

Dari keempat ini, active constructive adalah yang paling berdampak positif. Pasangan yang secara konsisten memberikan respons seperti ini terbukti memiliki tingkat kepuasan, keintiman, dan komitmen yang jauh lebih tinggi bahkan setelah faktor kepribadian dan kualitas hubungan awal diperhitungkan (Gable & Reis, 2010).



Kenapa Kondisi Ini Relevan di Masa Sekarang?

Di masa sekarang, hal ini terasa semakin relevan. Kita hidup di tengah distraksi yang tidak ada habisnya. Notifikasi terus muncul, perhatian mudah terpecah, dan percakapan sering dilakukan sambil mengerjakan hal lain. Akibatnya, banyak respons yang akhirnya terdengar “sekadarnya”, bukan karena tidak peduli, tetapi karena sulit benar-benar hadir untuk pasangan. 

Dan konsekuensinya lebih dalam daripada yang kita sadari. Ketika seseorang secara konsisten menerima respons yang layu terhadap kabar baiknya, mereka perlahan berhenti berbagi (Reis & Gable, 2003). Lama-lama, kebahagiaan itu mulai dicari di tempat lain, misal ke teman yang lebih antusias, yang langsung bilang "Serius?! Keren banget!" Atau ke orang asing di media sosial yang komentarnya justru lebih hangat daripada pasangan sendiri. Bukan berarti hubungannya buruk. Tapi ada sesuatu yang diam-diam bergeser. 

Jarak yang terbentuk bukan dari pertengkaran, tapi dari momen-momen kecil yang tidak pernah dirayakan bersama.

Lakukan Langkah Kecil yang Dampaknya Besar

Jika ada pasangan yang masih kesulitan dalam merespons kabar baik satu sama lain, yang perlu dilakukan sebenarnya cukup sederhana. Ketika pasanganmu bercerita sesuatu yang baik, letakkan HP atau apa pun yang sedang mengambil fokusmu sejenak, tatap mereka saat berbicara, lalu tanyakan lebih dalam. 

Langkah ini dilakukan agar pasangan kita merasa didengar, berharga, dan tidak sendirian dalam kebahagiaannya. Dalam jangka panjang, kebiasaan kecil ini akan membangun hubungan yang kokoh dan penuh keintiman, meski badai datang menerjang. Karena pada akhirnya, hubungan yang kuat bukan hanya dibangun dari bagaimana kita bertahan di masa sulit. Tetapi juga dari bagaimana kita ikut hadir dalam momen-momen kecil yang membahagiakan pasangan kita. Namun, jika kamu merasa ada tembok komunikasi yang sulit ditembus atau merasa kesulitan untuk mulai membangun pola respons yang sehat ini dalam hubungan, jangan ragu untuk mendapatkan bantuan lebih lanjut melalui dating counseling atau marriage counseling di grome.id!



Referensi
Gable, S. L., Reis, H. T., Impett, E. A., & Asher, E. R. (2004). What do you do when things go right? The intrapersonal and interpersonal benefits of sharing positive events. Journal of Personality and Social Psychology, 87 (2), 228–245.
Gable, S. L., & Reis, H. T. (2010). Good news! Capitalizing on positive events in an interpersonal context. Advances in Experimental Social Psychology, 42, 195–257.
Reis, H. T., & Gable, S. L. (2003). Toward a positive psychology of relationships. Flourishing: Positive Psychology and the Life Well-Lived, 129–159.