Pagi-pagi kamu sudah rapat di kantor. Pasanganmu juga. Sore hari kamu pulang dalam keadaan lelah, dia pun sama. Malamnya kalian duduk di sofa yang sama, tetapi entah kenapa rasanya seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal serumah.
Kalau kamu relate, kamu gak sendirian kok, Gromers!
Di era sekarang, pasangan suami istri yang sama-sama bekerja atau dikenal sebagai dual-earner couple semakin banyak kita temui. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar 60% pasangan di Indonesia merupakan pasangan dual-earner (Maharani et al., 2024). Artinya, lebih dari separuh rumah tangga Indonesia dijalani oleh dua individu yang sama-sama memiliki tanggung jawab pekerjaan sekaligus tanggung jawab dalam kehidupan keluarga.
Kondisi ini tentu banyak memberikan keuntungan, mulai dari stabilitas finansial hingga kesempatan untuk berkembang secara profesional. Namun di sisi lain, kondisi ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satu yang paling sering dirasakan adalah perasaan bahwa waktu dan energi tidak pernah cukup bagi pasangan. Kamu ingin hadir untuk pasangan, tetapi pikiran masih dipenuhi pekerjaan. Kamu ingin mengobrol lebih dalam, tetapi tubuh sudah terlalu lelah untuk memulai percakapan.
Ketika Tuntutan Pekerjaan dan Keluarga Bertabrakan
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai work-family conflict, yaitu ketika tuntutan pekerjaan dan tuntutan keluarga saling bertabrakan sehingga sulit memenuhi keduanya secara optimal (Maharani et al., 2024). Konflik ini dapat muncul ketika pekerjaan mengurangi waktu bersama keluarga, atau ketika urusan keluarga memengaruhi performa kerja. Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika seseorang menjalani banyak peran sekaligus, misalnya sebagai karyawan di kantor dan pasangan, orang tua, maupun anak di rumah. Teori role strain menjelaskan bahwa semakin banyak peran yang dijalani secara bersamaan, semakin besar pula tekanan yang berpotensi dirasakan individu (Maharani et al., 2024). Ketika tekanan tersebut tidak dikelola dengan baik, hubungan dengan orang terdekat sering kali menjadi pihak yang paling terdampak.
Bukan karena rasa sayangnya berkurang, melainkan karena energi untuk menunjukkan kasih sayang sudah terkuras terlebih dahulu.
Ketemu Setiap Hari, Tapi Tidak Benar-Benar Terhubung
Pasangan dual career yang tinggal serumah, bertemu setiap hari, bahkan berbagi rutinitas yang sama. Namun, kebutuhan untuk benar-benar terhubung secara emosional sering kali terlewatkan (Adelina & Andromeda, 2014). Waktu bersama perlahan berubah menjadi sekadar berbagi ruang yang sama. Padahal, kualitas hubungan tidak ditentukan oleh seberapa sering bertemu, melainkan seberapa “hadir” seseorang ketika bersama pasangannya (Maharani et al., 2024). Hal ini menyebabkan komunikasi yang terjadi sering kali hanya berfokus pada hal-hal rutinitas, seperti:"Siapa yang jemput anak?", "Tagihan sudah dibayar belum?", atau "Besok ada agenda apa?"
Sedangkan percakapan mengenai perasaan, harapan, kekhawatiran, atau berbagi pengalaman semakin jarang terjadi. Dalam jangka panjang, hubungan dapat terasa hambar dan berjarak tanpa disadari kapan tepatnya perubahan itu dimulai karena hal tersebut (Adelina & Andromeda, 2014).
Tantangan lain yang sering muncul adalah ketidakseimbangan dalam komunikasi maupun pembagian tanggung jawab rumah tangga. Salah satu pihak mungkin merasa sudah berusaha terbuka, sementara pihak lain cenderung memendam perasaan atau menghindari pembicaraan yang mendalam. Ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus, beban emosional hubungan dapat terasa hanya dipikul oleh satu orang dalam hubungan (Adelina & Andromeda, 2014).