
Tahukah kamu bahwa 94% Gen Z menganggap TikTok dan Instagram sebagai “rumah kedua”?
Bahkan, rata-rata mereka bisa menghabiskan lebih dari 4 jam per hari hanya untuk scrolling (SimpleBeen, 2025). Media sosial kini bukan lagi sekadar hiburan bagi Gen Z, melainkan ruang hidup kedua yang membentuk identitas, relasi, bahkan emosi mereka.
Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi ini menciptakan fenomena Digital Noise, yaitu paparan informasi dan stimulus digital yang berlangsung secara terus-menerus tanpa jeda. Menurut Auliya (2026), paparan yang intens dan berulang ini dapat memunculkan bentuk kecemasan psikologis yang tidak selalu terlihat, yang dikenal sebagai Silent Anxiety.
Pernah Merasa Cemas Tanpa Tahu Sebabnya?
“Perasaan aku baru saja posting selfie terbaikku di media sosial, tapi kok sepi ya yang likes, kok aku jadi cemas gini ya, apa kurang bagus ya fotonya atau aku kurang menarik?”
Bagaimana Ciri-Cirinya?
Silent Anxiety dapat terlihat dari kombinasi tanda perilaku, fisik, serta emosional, bahkan kognitif seseorang. Individu mungkin menghindari situasi sosial, menunjukkan perfeksionisme dan mengkritik diri berlebihan, serta mudah tersinggung. Secara fisik, bisa muncul gangguan tidur ringan, ketegangan otot, sakit kepala, dan kelelahan kronis. Sementara secara emosional dan kognitif, ditandai dengan kekhawatiran terus-menerus, overthinking terhadap hal kecil, rasa bersalah saat tidak produktif, takut tertinggal informasi (FOMO), hingga kebiasaan menganalisis ulang percakapan atau meragukan keputusan sehari-hari (Pacific Coast Mental Health, 2025).
Ternyata Dampaknya Tidak Se”Ringan” Itu!
Silent Anxiety sering dianggap "normal" karena tampak ringan atau wajar bagi orang lain, padahal bisa berdampak luas ke berbagai aspek kehidupan. Dalam relasi sosial, individu cenderung menarik diri, mengalami isolasi, hubungan menjadi renggang (strained relationships), serta rentan terjadi miskomunikasi akibat overthinking. Dalam konteks akademik maupun pekerjaan, dapat menurunkan konsentrasi dan produktivitas, mempersulit pengambilan keputusan, serta mendorong perilaku overworking sebagai bentuk kompensasi (Pacific Coast Mental Health, 2025).


Referensi:
Aqobah, Q. J., & Rhamadian, D. (2022). Dampak kecemasan (anxiety) dalam olahraga terhadap atlet. Journal of Sport Science and Tourism Activity (JOSITA), 1(1), 31–36.
Auliya, N. N. (2026). Digital noise & silent anxiety: Jejak psikologis Gen Z di balik layar. Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta.
Diananza, A. I. (2025). Silent Anxiety: Ketakutan dan Kecemasan yang Jarang Dibahas di Media Sosial. kumparan. https://kumparan.com/anggita-indy/silent-anxiety-ketakutan-dan-kecemasan-yang-jarang-dibahas-di-media-sosial-25j3PUrXwx9/4
Pacific Coast Mental Health. (2025). Understanding Silent Anxiety: What It Is and How to Recognize It. https://pacificcoastmh.com/understanding-silent-anxiety-what-it-is-and-how-to-recognize-it/
National Institute of Mental Health. Anxiety Disorders. https://pacificcoastmh.com/understanding-silent-anxiety-what-it-is-and-how-to-recognize-it/
Asqolani, I. A. (2020, July 30). Merasa cemas? Coba lakukan beberapa tips ini. BINUS University. https://binus.ac.idDitulis oleh
Selma Elan Aretha Pasaribu