Siapa di sini yang sudah memiliki hubungan pacaran bertahun-tahun? Sudah berapa kali kalian saling memaafkan? Pasti banyak sekali kan, Gromers!
Tapi ternyata hubungan yang sudah berjalan bertahun-tahun tidak selalu menjamin kedewasaan emosional dalam hubungannya. Banyak pasangan yang menjalani hubungan autopilot, yakni sebuah kondisi dimana hubungan tetap berjalan namun kehilangan esensinya. Kondisi ini ditandai dengan sudah tidak lagi memberikan effort kepada satu sama lain, tidak ada deep talk tentang perasaan dan harapan di masa depan, dan saat bertemu sibuk dengan gadget masing-masing.
Saat kondisi ini memicu konflik, senjata andalan yang paling sering dikeluarkan adalah kata "maaf". Sayangnya, kata "maaf" seringkali sebagai tombol shortcut agar perdebatan cepat selesai dan hubungan kembali adem ayem Padahal, ini dapat membuat salah satu pihak merasa lelah berjuang sendiri di hubungan ini, sementara pihak lainnya terus berlindung di balik kata maaf tanpa tindakan nyata.

The Five Apology Languages
Seperti cinta yang punya bahasanya sendiri, ternyata permintaan maaf pun demikian. Dalam psikologi, kita mungkin sudah familiar dengan Love Languages dari Dr. Gary Chapman. Nah, Dr. Gary Chapman bersama Dr. Jennifer Thomas bersama merumuskan teori serupa bernama The Five Apology Languages. Bedanya, kalau love language cenderung konsisten di satu jenis, apology language bisa berbeda-beda penggunaannya tergantung situasi yang sedang dihadapi.
Berikut ini The Five Apology Languages yang perlu kita pahami:
- Expressing Regret (Mengungkapkan Penyesalan)
Berfokus pada pengakuan kesalahan secara tulus dan dampaknya pada pasangan, tanpa meminimalkan situasi atau mencari-cari alasan.
Contoh: “Aku minta maaf karena tindakanku menyakitimu, dan aku benar-benar menyesal."
- Accepting Responsibility (Menerima Tanggung Jawab)
Pelaku berani mengakui bahwa tindakannya salah, tanpa melempar kesalahan pada situasi atau pasangan.
Contoh: "Aku bertanggung jawab penuh atas hal ini, aku tahu aku yang salah."
- Make Restitution (Melakukan Penebusan/Ganti Rugi)
Permintaan maaf ini disertai upaya aktif untuk memperbaiki situasi atau menebus kesalahan sebagai bukti bahwa pelaku masih peduli pada keberlangsungan hubungan. Pelaku dapat menanyakan apa yang dapat dilakukan.
Contoh: "Apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku?"
- Genuinely Repenting (Tidak Mengulangi Kesalahan)
Bagi sebagian orang, ucapan terasa kosong jika tidak diikuti komitmen nyata. Maka, pelaku benar-benar melakukan perubahan perilaku agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Contoh: "Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi, aku akan menjadwalkan 15 menit setiap hari tanpa gadget buat ngobrol sama kamu, dan aku akan pasang alarm biar gak lupa."
- Request Forgiveness (Memohon Pengampunan)
Bentuk maaf ini menunjukkan vulnerability tinggi, di mana pelaku menurunkan egonya dan memberikan pilihan penuh pada pasangan apakah akan memaafkan atau tidak.
Contoh "Aku tau ini berat buat kamu, apakah kamu mau memaafkanku?"
Dalam banyak kasus, konflik seringkali terjadi karena benturan antara Expressing Regret (mengucapkan maaf saja) dengan Genuinely Repenting (Tidak Mengulangi Kesalahan). Pihak yang melakukan kesalahan merasa tanggung jawabnya sudah selesai hanya karena sudah bilang "yaudah, aku minta maaf". Sementara itu, pihak yang dirugikan menganggap maaf tersebut hanya omongan karena tidak melihat adanya perubahan perilaku yang nyata dari pasangannya.