Haruskah Anakku Masuk Preschool
haruskah-anakku-masuk-preschool

Haruskah Anakku Masuk Preschool

Pernahkah kamu bertanya-tanya 

“Perlu gak ya anakku preschool?” 

“Anaknya teman-temanku preschool, anakku perlu diikutkan juga gak ya?”

“Preschool itu wajib gak sih?”

“Nanti anakku terlambat pintar gak ya kalau gak preschool?”


Kalau jawabannya iya, berarti artikel ini cocok untuk kamu! Sebagai orang tua, apalagi pada era dimana sosial media menunjukkan banyaknya orang tua yang memasukkan anaknya di preschool, wajar sekali kalau kamu merasa bimbang dengan keputusan perlukah anak masuk preschool di usia yang sangat dini, yaitu sekitar usia 3 tahun. Mungkin di zaman kamu kecil, masuk preschool bukanlah suatu hal yang umum sehingga tidak banyak edukasi mengenai pro dan kontra mengenai hal ini. 


Ada banyak orang yang bilang “ngapain anak kecil sekolah? Biarin dia main di rumah saja sudah cukup, kalau mau belajar, bisa diajarin sendiri atau pas masuk TK saja” tapi ada juga yang bilang “Anak perlu masuk sekolah sejak awal, kalau bisa dari preschool supaya tidak tertinggal teman-teman seusianya daripada di rumah, nanti hape-an terus” Kedua pernyataan tersebut mungkin ada benar dan salahnya masing-masing. Keputusan untuk akhirnya menyekolahkan anak dari kecil tentunya harus berdasarkan observasi, pertimbangan, dan penilaianmu sendiri sebagai orang tua, bukan dari kata-kata orang lain. Maka dari itu, penting untuk kamu memiliki pengetahuan yang cukup untuk bahan pertimbangan keputusanmu terhadap perkembangan anakmu




Coba tanyakan pertanyaan-pertanyaan ini sebelum mempertimbangkan preschool untuk anak kamu!


  • Apakah aku sudah siap secara finansial?

Ketika anak mulai sekolah, kamu dan pasangan harus melakukan banyak penyesuaian dalam rencana keuangan. Biaya preschool bisa cukup besar, ada uang pangkal, bulanan, seragam, hingga kegiatan tambahan. Pastikan kondisi keuanganmu cukup stabil agar tidak menjadi beban atau bahkan sumber konflik di kemudian hari.


  • Apakah aku sudah siap secara emosional?

Menitipkan anak ke lingkungan baru bisa memicu kecemasan, baik untuk anak maupun orang tua. Kamu juga harus siap melihat anakmu diajar atau didisiplinkan oleh orang lain. Apakah kamu siap untuk percaya dan melepas anak pada orang lain selama beberapa jam? 


  • Apakah aku sudah siap secara waktu dan energi? 

Anak akan mengalami masa adaptasi baik secara fisik maupun mental. Masa transisi ini akan tidak mudah bagi anak. “Menitipkan” anak di preschool bukan berarti kamu lepas dari pengasuhan anak, melainkan kamu harus investasi waktu dan energi lebih ekstra untuk menemani anak. Apakah kamu sudah siap? 


  • Apakah anakku butuh dan sudah siap? 

Kalau kamu sebagai orang tua sudah siap, inilah pertanyaan paling penting yang perlu kamu pastikan jawabannya. Anak akan menjalani rutinitas baru, masuk ke lingkungan baru, dan bertemu orang baru. Hal yang baru ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada anak. Maka dari itu, orang tua perlu memastikan apakah anak benar-benar butuh preschool dan sudah siap secara mental. Kalau kamu memutuskan untuk memasukkan anakmu ke preschool, pastikan bahwa ia juga senang dan nyaman akan hal ini. Lakukan survei ke sekolah barunya agar anak dapat berkenalan dengan lingkungan sekolah. Setelah melakukan uji coba di sekolahnya, tanyakan dengan baik apakah anak merasa nyaman dan senang.






Apabila kamu tidak memiliki kesiapan, terutama secara finansial, kamu tidak perlu khawatir. Belajar dapat dilakukan di mana saja, tak terkecuali di rumah. Kamu bisa menggunakan alat bantu belajar atau melakukan kegiatan-kegiatan edukatif yang ada di internet. Coba lakukan cara ini!

  • Bangun rutinitas harian
Seperti anak akan pergi sekolah, ciptakan rutinitas dan lakukan secara konsisten, mulai dari jam bangun, jam makan, waktu bermain, waktu belajar, membaca, tidur, dan kegiatan fisik. 

  • Baca buku setiap hari
Beli buku bacaan anak atau gunakan buku digital. Jadikan membaca sebagai rutinitas anak untuk membantunya memperkaya kosakata dan imajinasi

  • Ajarkan kemandirian
Libatkan anak dalam melakukan pekerjaan rumah tangga yang sederhana, seperti merapikan mainan, menuang minum sendiri, membantu membersihkan meja makan, mencuci piring makannya sendiri, dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan motorik dan membangun tanggung jawab

  • Adakan interaksi sosial
Meskipun anak tidak sekolah, berikan kesempatan untuk anak bermain di luar, bisa dengan tetangga, saudara, atau dengan anak lain di taman bermain. Dengan demikian, kemampuan sosial dan emosional anak akan terlatih


Setiap anak diciptakan berbeda-beda dengan keunikan dan kemampuannya masing-masing. Tidak ada yang benar atau salah mengenai keputusan memasukkan anak ke preschool atau tidak. Keputusan orang tua haruslah berdasarkan kesiapan pribadi dan tak terkecuali, kesiapan anak itu sendiri, bukan tergantung omongan dan tuntutan orang lain. Kamu tidak perlu overthinking dan merasa gagal apabila tidak memasukkan anak ke preschool. Kamu tidak perlu juga merasa bersalah apabila anakmu harus sekolah lebih awal dibanding teman-teman seusianya. 

Jadi, daripada terjebak dalam tekanan sosial atau membandingkan diri dengan orang lain, lebih baik fokus pada kebutuhan dan kondisi keluargamu sendiri. Setiap keputusan yang diambil dengan penuh pertimbangan dan kasih sayang pasti akan membawa dampak positif bagi tumbuh kembang anak. Ingat, yang terpenting bukanlah seberapa cepat anak mulai sekolah, tetapi bagaimana ia tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, percaya diri, dan siap menghadapi dunia dengan dukungan orang tua yang memahami kebutuhannya.