“Rumput tetangga selalu lebih hijau”
Pasti pernah mendengar peribahasa ini kan, Gromers?
Peribahasa klasik ini bukan sekadar kalimat, melainkan sebuah cerminan sifat dasar manusia lho!
Sebagai makhluk sosial, kita memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan kehidupan kita dengan orang lain, baik dengan keluarga, teman, hingga orang asing di media sosial. Fenomena ini dikenal sebagai social comparison (perbandingan sosial).
Apa itu Social Comparison?
Secara definisi, social comparison adalah proses di mana individu memahami sikap, kemampuan, dan dirinya sendiri dengan membandingkan dengan orang lain (Aronson, Wilson, dan Akert (2010).
Teori ini pertama kali dicetuskan oleh psikolog Leon Festinger pada tahun 1954. Festinger menyatakan bahwa manusia memiliki dorongan bawaan (innate drive) untuk mengevaluasi diri mereka dan seringkali mencoba untuk mengevaluasi diri dengan cara membandingkan diri dengan orang lain (Psychology Binus, 2020). Sejalan dengan itu, Adam Galinsky dan Maurice Schweitzer (2015) dalam buku mereka yang berjudul Friend and Foe: When to Cooperate, When to Compete, and How to Succeed at Both, menekankan bahwa kecenderungan ini merupakan bawaan alami manusia.
Jenis-Jenis Social Comparison
Namun, perbandingan ini tidak bersifat satu arah. Dalam perjalanannya, kita biasanya melakukan dua jenis perbandingan:
- Upward Social Comparison: Terjadi saat kita membandingkan diri dengan mereka yang kita anggap lebih hebat atau superior. Tujuannya sering kali positif, yaitu mencari inspirasi untuk meningkatkan status atau kemampuan kita (Psychology Binus, 2020; Cherry, 2026).
- Downward Social Comparison: Sebaliknya, ini adalah situasi di mana kita membandingkan diri dengan mereka yang kondisinya kita anggap lebih buruk. Biasanya, hal ini dilakukan secara bawah sadar untuk melindungi harga diri dan membuat kita merasa lebih baik atas pencapaian kita sendiri (Cherry, 2026)
Dua Sisi Mata Pisau
Social comparison memiliki dua sisi. Di satu sisi, social comparison bisa memicu motivasi dan meningkatkan self-esteem untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Namun di sisi lain, perbandingan yang tidak sehat bisa membuat kita merasa tidak berharga dan menurunkan kepercayaan diri (Cherry, 2026). Risikonya muncul ketika kita tidak percaya diri dengan kemampuan sendiri, yang justru mengakibatkan penurunan kepercayaan diri lebih dalam (Lintang, 2022). Kita sering terjebak membandingkan diri dengan orang-orang yang paling menonjol di bidangnya. Padahal, membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis hanya akan memicu perasaan tidak mampu dalam diri kita (Psychology Today Staff, 2026).