Menghadapi Perselingkuhan dalam Pernikahan
menghadapi-perselingkuhan-dalam-pernikahan

Menghadapi Perselingkuhan dalam Pernikahan

Pernikahan dibangun atas dasar kepercayaan, komitmen, dan rasa saling menghargai. Dalam hubungan pernikahan, kedua pasangan tentu berharap mampu menjaga kesetiaan serta saling mendukung satu sama lain. 

Namun dalam kenyataannya, tidak semua pasangan mampu mempertahankan komitmen tersebut dengan sempurna. Salah satu masalah yang paling menyakitkan dalam pernikahan adalah perselingkuhan. 

Saat ini, kasus perselingkuhan dalam pernikahan semakin sering terjadi. Bahkan pasangan yang telah menjalani pernikahan bertahun-tahun atau terlihat sangat harmonis pun dapat berpisah karena adanya hubungan dengan orang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa perselingkuhan bukan sekadar cerita dalam drama atau media sosial, tetapi realitas yang juga dialami banyak pasangan.
 
Ketika perselingkuhan terjadi, banyak pasangan dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah hubungan ini masih bisa diselamatkan, atau sudah waktunya untuk berpisah? 

Bagi sebagian orang, perselingkuhan merupakan kesalahan yang tidak dapat dimaafkan. Namun bagi pasangan lain, perselingkuhan justru menjadi titik refleksi untuk memahami masalah yang selama ini terjadi dalam hubungan mereka. Meski demikian, hubungan yang telah diwarnai dengan perselingkuhan tidak mudah untuk diperbaiki kembali dan sering kali berujung pada perceraian (Scott et al., 2013, dalam Shaleha & Kurniasih, 2021).

Apa yang Dimaksud dengan Perselingkuhan?

Perselingkuhan didefinisikan sebagai pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang yang sudah memiliki pasangan terhadap norma yang mengatur tingkat keintiman emosional maupun fisik dengan orang lain di luar hubungannya dengan pasangan. (Moller dan Vossler, 2015, dalam Shaleha & Kurniasih, 2021). Dengan kata lain, perselingkuhan dapat merupakan pelanggaran terhadap komitmen hubungan yang telah dijalani dengan pasangan, baik secara emosional maupun fisik.

Perselingkuhan merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan perceraian di Indonesia dan menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Menurut laporan Badan Pusat Statistik yang dikutip oleh Hidayah (2023 dalam Annur dkk., 2024), pada tahun 2022 angka perceraian di Indonesia mencapai 516.334 kasus. Jumlah ini meningkat sekitar 15% jika dibandingkan dengan tahun 2021 yang mencatat 447.743 kasus, dan menjadi angka tertinggi dalam enam tahun terakhir. Tingginya angka perceraian tersebut menunjukkan bahwa perselingkuhan atau keterlibatan pihak ketiga dalam hubungan pernikahan dapat menjadi salah satu pemicu utama perceraian. Kehadiran pihak ketiga sering menimbulkan rasa cemburu, konflik, serta keretakan dalam hubungan rumah tangga yang pada akhirnya mendorong pasangan untuk mengakhiri pernikahan (Fitri, 2022; Riadi, Jannah, & Siregar, 2022 dalam Annur dkk., 2024). 


Jenis Perselingkuhan Tidak Selalu Sama

Dalam penelitian psikologi hubungan, terdapat beberapa jenis perselingkuhan yang sering terjadi (Puspitadesi, 2025): 

  • Perselingkuhan fisik: bentuk yang paling jelas karena melibatkan kontak seksual atau fisik dengan orang lain di luar pernikahan. 
  • Perselingkuhan emosional: terjadi ketika seseorang memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat dengan orang lain, seperti berbagi rahasia, mencari dukungan emosional, atau memiliki perasaan romantis kepada orang lain di luar pasangan. Menurut Guitar et al. (2017), perselingkuhan emosional dapat berupa menipu pasangan mengenai perasaan terhadap orang lain, mendedikasikan diri secara emosional kepada orang lain, jatuh cinta dengan orang lain, atau berbohong mengenai hubungan tersebut.
  • Cyber affair: perselingkuhan yang terjadi melalui media sosial, aplikasi pesan, atau internet. Meskipun tidak melibatkan kontak fisik, hubungan semacam ini tetap dapat menimbulkan dampak emosional yang besar bagi pasangan. 
  • Micro-cheating: tindakan yang mendekati perselingkuhan seperti flirting berlebihan, menyembunyikan komunikasi dengan lawan jenis, atau menjaga hubungan rahasia dengan orang lain.
Fun Fact: Pria dan Wanita Merespons Perselingkuhan Secara Berbeda

Pria dan wanita dapat memberikan reaksi yang berbeda terhadap perselingkuhan, lho. Pria cenderung merasa lebih tertekan ketika pasangannya melakukan perselingkuhan seksual, sedangkan wanita lebih terganggu oleh perselingkuhan yang bersifat emosional (Brase et al., 2014; Edlund et al., 2006; Tagler & Jeffers, 2013). Temuan ini menunjukkan bahwa pria cenderung lebih sensitif terhadap ancaman seksual dalam hubungan, sedangkan wanita lebih peka terhadap ancaman emosional yang dapat memengaruhi kedekatan dan komitmen hubungan.

Apa Saja Tanda-Tanda Perselingkuhan dalam Hubungan?

Dalam kehidupan sehari-hari, perselingkuhan juga sering ditandai oleh perubahan perilaku. Misalnya, pasangan tiba-tiba lebih memperhatikan penampilan, lebih tertutup dengan ponsel, atau mengganti kata sandi ponsel secara mendadak. Selain itu, kebohongan kecil mulai muncul, pasangan lebih sulit dihubungi, lebih sering berada di luar rumah dengan alasan baru, hingga perubahan frekuensi hubungan seksual. Dalam beberapa kasus, pelaku juga cenderung menyalahkan pasangan atau menghindari pembicaraan tentang masalah hubungan (Puspitadesi, 2025; Stritof, 2026; Weiss, 2018).

Fenomena perselingkuhan ini tidak hanya terjadi pada pasangan yang telah lama menikah, tetapi juga pada pasangan yang baru memulai kehidupan rumah tangga (Moller & Vossler, 2015, dalam Shaleha & Kurniasih, 2021). Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: mengapa perselingkuhan dapat terjadi pada berbagai tahap pernikahan?


Mengapa Perselingkuhan Bisa Terjadi?

Perselingkuhan tidak terjadi begitu saja. Ada berbagai faktor yang dapat memicu munculnya perilaku tersebut dalam hubungan pernikahan, antara lain (Puspitadesi, 2025):

  • Kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi. Seseorang mungkin merasa tidak dihargai, diabaikan, atau tidak didengarkan oleh pasangannya sehingga mencari perhatian dan dukungan emosional dari orang lain. 
  • Menurunnya keintiman dalam hubungan juga dapat menjadi faktor pemicu. Kehilangan kedekatan emosional maupun fisik sering membuat pasangan merasa hubungannya tidak lagi memuaskan.
  • Kesempatan dan situasi tertentu juga dapat membuka peluang terjadinya perselingkuhan, misalnya kedekatan dengan rekan kerja, perjalanan bisnis, atau interaksi intens dengan orang lain di luar hubungan. 
  • Mengalami krisis identitas atau midlife crisis sehingga mencari validasi atau ingin merasakan kembali sensasi baru melalui hubungan dengan orang lain 
  • Pola dari keluarga asal. Individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menganggap perselingkuhan sebagai sesuatu yang biasa terkadang membawa pola tersebut hingga dewasa. 
  • Masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, atau gangguan kepribadian yang tidak tertangani juga dapat berkontribusi terhadap perilaku ini.

Apa Dampaknya bagi Pasangan?

Perselingkuhan dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius bagi semua pihak yang terlibat. Bagi pasangan yang dikhianati, pengalaman ini sering menimbulkan trauma emosional yang mirip dengan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Penelitian menunjukkan bahwa korban perselingkuhan sering mengalami tekanan psikologis seperti depresi, kecemasan, penurunan kepercayaan diri, serta penurunan harga diri (Bird et al., 2007; Fife et al., 2013). Pelaku perselingkuhan juga dapat mengalami konflik batin, rasa bersalah, dan ketakutan akan kehilangan keluarga maupun konsekuensi sosial. Jika pasangan memiliki anak, dampaknya juga dapat dirasakan oleh mereka, misalnya ketidakstabilan emosional, kesulitan mempercayai hubungan di masa depan, serta penurunan prestasi akademik (Puspitadesi, 2025).

Jadi, Apakah Perselingkuhan Bisa Dimaafkan?

Jawabannya: tergantung setiap pasangan.
Hubungan pernikahan akan sulit dipertahankan jika perselingkuhan terus berulang (pola yang tidak berubah), pelaku tidak menunjukkan penyesalan, pelaku tidak mau mengakhiri hubungan dengan orang ketiga, masih sering berbohong, terdapat kekerasan fisik atau emosional dalam hubungan atau setelah terapi hubungan yang cukup lama tidak menunjukkan perubahan berarti.. Jika salah satu pihak sudah tidak ingin melanjutkan hubungan, berpisah terkadang menjadi pilihan yang lebih sehat (Puspitadesi, 2025).

Namun, ada juga hubungan yang masih dapat diperbaiki. Hal ini biasanya terjadi ketika pelaku benar-benar mengakhiri hubungan dengan orang ketiga, menunjukkan penyesalan yang tulus, mnengembangkan komunikasi yang lebih terbuka, mampu memaafkan, menciptakan kembali kebiasaan positif dalam hubungan, dan kedua pasangan bersedia membangun kembali komunikasi serta kepercayaan. Prosesnya tentu tidak instan dan membutuhkan komitmen dari keduanya (Puspitadesi, 2025).


Di sinilah konseling pasangan dapat membantu. Melalui Marriage Couple Counseling oleh grome.id, pasangan dapat memahami satu sama lain dengan lebih dalam, memperbaiki luka yang ada, dan perlahan membangun kembali kedekatan emosional dalam hubungan. Yang terpenting, keputusan akhir tetap mempertimbangkan kesehatan emosional semua pihak. 

Bagaimana menurutmu, bisakah hubungan tetap bertahan setelah perselingkuhan?????

Referensi
  • Annur, D., Mau, M., & Mursalim. (2024). Perselingkuhan selebritas Indonesia dalam portal berita daring (Analisis wacana kritis perspektif Sara Mills). Action Research Literate, 8(4), 779-786.
  • Halodoc. (2024). Ini Ciri-Ciri Suami Selingkuh Menurut Psikolog dan Cara Menghadapinya. Diakses pada 8 Maret 2026, dari https://www.halodoc.com/artikel/ini-ciri-ciri-suami-selingkuh-menurut-psikolog-dan-cara-menghadapinya
  • Puspitadesi, D. I. (2025). 7 Tanda Pernikahan Anda Butuh Konseling Psikolog. Mindset Psychology. Diakses pada 8 Maret 2026, dari https://mindsetpsychology.co.id/artikel/tanda-pernikahan-butuh-konseling 
  • Puspitadesi, D. I. (2025). Bagaimana Mengatasi Perselingkuhan dalam Pernikahan? Mindset Psychology. Diakses pada 8 Maret 2026, dari https://mindsetpsychology.co.id/artikel/mengatasi-perselingkuhan 
  • Shaleha, R. R. A., & Kurniasih, I. (2021). Ketidaksetiaan: Eksplorasi ilmiah tentang perselingkuhan. Buletin Psikologi, 29(2), 218–230. https://doi.org/10.22146/buletinpsikologi.55278 
  • Stritof, S. (2026, February 13). 11 Signs of Cheating. Verywell Mind. Diakses pada 8 Maret 2026, dari https://www.verywellmind.com/signs-of-cheating-2300652 
  • Weiss, R. B. (2018). 10 Signs Your Spouse Is Cheating. Psychology Today. Diakses pada 8 Maret 2026, dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/love-and-sex-in-the-digital-age/201812/10-signs-your-spouse-is-cheating