Apa Dampaknya?
Kekerasan dalam pacaran dapat berdampak serius bagi korbannya, baik secara fisik maupun mental. Korban dapat mengalami luka fisik seperti memar, cedera, hingga patah tulang. Selain itu, dampak psikologis yang sering muncul meliputi depresi, gangguan kecemasan, trauma (PTSD), gangguan tidur, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri (Safitri, A. N., & Herdiana, I., 2023). Dengan kata lain, kekerasan dalam pacaran bukan hanya persoalan hubungan, tetapi juga menyangkut kesehatan mental dan keselamatan individu.
Jadi, Bagaimana Cinta yang Sehat?
Pacaran seharusnya menjadi ruang bagi dua individu untuk saling mengenal dan saling mendukung (Apriantika, 2021). Psikolog sosial, Erich Fromm, menjelaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan spontan, melainkan tindakan aktif untuk merawat dan mendukung perkembangan orang yang kita sayangi. Cinta memiliki beberapa unsur penting, yaitu perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan.
Perhatian menunjukkan peduli terhadap kesejahteraan orang yang dicintai. Tanggung jawab berarti kesiapan untuk hadir dan merespons kebutuhan orang lain secara aktif. Rasa hormat berarti mengakui pasangan sebagai individu yang memiliki kebebasan dan otonomi, bukan sebagai sesuatu yang harus dikendalikan. Sementara pengetahuan berarti upaya memahami pasangan secara mendalam sebagai pribadi yang utuh. Keempat unsur tersebut menunjukkan bahwa cinta bukan tentang menguasai, melainkan tentang memberi ruang bagi pasangan untuk menjadi dirinya sendiri.
Dalam bukunya To Have or To Be?, Erich Fromm menjelaskan dua orientasi dalam hubungan, yaitu to have dan to be. Orientasi to have memandang hubungan sebagai bentuk kepemilikan, sedangkan orientasi to be memandang hubungan sebagai proses untuk bertumbuh bersama. Seperti dijelaskan oleh Kuntoro (1991), “mencintai seseorang adalah memberi, menjaga, dan mendorong untuk tumbuh dan hidup, bukan menghancurkan dan mematikan.” Pandangan ini menunjukkan bahwa cinta bukanlah tentang menguasai pasangan.
Love Yourself is The Key
Fromm juga menekankan pentingnya self-love. Ketika seseorang tidak mampu untuk mencintai dirinya sendiri, ia cenderung menuntut pasangan untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya. Kondisi ini dapat memunculkan rasa tidak aman, ketergantungan berlebihan, serta perilaku posesif terhadap pasangan yang pada akhirnya berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan dalam hubungan (Apriantika, 2021).
Pacaran sebagai Ruang Tumbuh
Cinta yang sehat memberi rasa aman, bukan membatasi kebebasan. Jika hubungan mulai dipenuhi tekanan atau kekerasan, kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Melalui layanan dating counseling, Grome membantu individu maupun pasangan memahami masalah hubungan, memperbaiki komunikasi, dan membangun relasi yang lebih sehat. Karena pada akhirnya, cinta seharusnya memberi ruang bagi kedua individu untuk tumbuh bersama dan saling menghargai.
Referensi
Apriantika, S. G. (2021). Konsep cinta menurut Erich Fromm: Upaya menghindari tindak kekerasan dalam pacaran. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 13(1).
Bitara, I. N. W., Afriyani, L. D., Pratiwi, W., Tanjo, Y. L., Almanto, S. C. S., Dewianti, A., & Erika, N. (2023). Literature review: Faktor penyebab kekerasan dalam pacaran (KDP) pada remaja. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo, 2(2).
Dewi, Anita Permata. 2023. “Komnas: Kekerasan pacaran dominasi kekerasan personal tahun 2022.” ANTARA News, 9 Maret 2023.
Kuntoro, Sodiq A. 1991. “Tinjauan Buku Secara Kritikal: Erich Fromm: To Have or To Be?.” Cakrawala Pendidikan, No. 2, Tahun X, Juni 1991.
Komnas Perempuan. (2023). Catatan Tahunan Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2022 – Kekerasan Terhadap Perempuan Di Ranah Publik dan Negara: Minimnya Perlindungan dan Pemulihan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan.
Office on Women’s Health. (2025, January 31). Dating violence and abuse. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.womenshealth.gov/relationships-and-safety/other-types-violence-against-women/dating-violence-and-abuse
Safitri, A. N., & Herdiana, I. (2023). Faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam pacaran pada perempuan: Sebuah tinjauan literatur. Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga.
Tanjung, Idon & Susanti, Reni. 2026. Mahasiswa UIN Suska Riau Bacok Pacar di Kampus, Wakil Rektor Angkat Bicara. Kompas.com. 26 Februari 2026. Tersedia pada: https://regional.kompas.com/read/2026/02/26/171300078/mahasiswa-uin-suska-riau-bacok-pacar-di-kampus-wakil-rektor-angkat-bicara. Diakses pada 9 Maret 2026.