Memahami Penyebab Kekerasan Dalam Pacaran
memahami-penyebab-kekerasan-dalam-pacaran

Memahami Penyebab Kekerasan Dalam Pacaran

Pernah gak sih kalian melihat hubungan yang awalnya penuh perhatian tapi lama-lama justru terasa mengekang? 

Pada awalnya mungkin terasa manis saat pasangan menanyakan kabar. Tapi pelan-pelan, perhatian itu berubah wujud menjadi larangan berteman dengan orang tertentu, wajib lapor keberadaan setiap saat, sampai dia mudah meledak jika keinginannya tidak dituruti. 
 
Masalahnya, banyak orang masih menganggap perilaku seperti ini sebagai tanda cinta. Padahal Gromers, ini bisa menjadi red flag dalam sebuah hubungan, lho!????


Ketika Cinta Berujung Kekerasan

Kalimat “cinta ditolak, bacok bertindak” sempat viral setelah kasus pembacokan terhadap seorang mahasiswi oleh rekannya di Riau pada tahun ini. Peristiwa tersebut dipicu oleh persoalan asmara. Korban menolak perasaan pelaku karena sudah memiliki pasangan, sementara pelaku merasa ingin “memiliki” korban sepenuhnya. Ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi, rasa sakit hati berubah menjadi tindakan kekerasan (Tanjung & Susanti, 2026).
 
Fenomena ini bukan kasus yang jarang terjadi. Catatan Tahunan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa pada tahun 2022 terdapat 422 kasus kekerasan dalam pacaran yang dilaporkan langsung ke Komnas Perempuan, sementara data lembaga layanan mencatat angka yang lebih tinggi yaitu 3.528 kasus (Komnas Perempuan, 2023). 

Apa itu Kekerasan dalam Pacaran? 

Pacaran dapat dipahami sebagai hubungan bersifat dua arah (dyadic relationship) yang disertai dengan adanya pertemuan untuk berinteraksi maupun melakukan aktivitas bersama (Apriantika, 2021). Namun dalam beberapa hubungan, dinamika tersebut bisa berubah menjadi relasi yang tidak sehat, salah satu bentuknya adalah kekerasan dalam pacaran. Kekerasan dalam pacaran adalah bentuk pelecehan fisik, seksual, emosional, atau verbal yang dilakukan oleh pasangan romantis (Office on Women’s Health, 2025). 

Bentuknya tidak selalu berupa kekerasan fisik. Dalam banyak kasus, kekerasan justru muncul melalui perilaku yang terlihat “biasa”, seperti kontrol berlebihan, manipulasi emosional, atau tekanan terhadap pasangan. Secara umum, kekerasan dalam pacaran dapat muncul dalam beberapa bentuk. Misalnya kekerasan fisik seperti memukul, menampar, atau melukai tubuh pasangan. Ada pula kekerasan psikologis, seperti menghina, mengancam, mempermalukan, atau membuat pasangan merasa tidak berharga. Selain itu, terdapat kekerasan seksual berupa aktivitas seksual tanpa persetujuan. Ada juga kekerasan ekonomi, misalnya memaksa pasangan meminjamkan uang atau mengontrol keuangan pasangan. 

Berbagai bentuk kekerasan tersebut menunjukkan adanya relasi yang tidak setara. Dalam situasi ini, salah satu pihak berusaha mendominasi dan mengendalikan pihak lainnya. 


Mengapa Kekerasan dalam Pacaran Bisa Terjadi? 

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko terjadinya kekerasan dalam hubungan antara lain (Bitara et al., 2023):
  • Kurangnya pemahaman tentang hubungan yang sehat. Banyak remaja yang tidak menyadari bahwa perilaku posesif, cemburu berlebihan, atau mengontrol pasangan merupakan bentuk kekerasan psikologis. 
  • Pengalaman kekerasan dalam keluarga. Individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kekerasan memiliki risiko lebih tinggi menjadi pelaku atau korban kekerasan dalam hubungan romantis. 
  • Budaya patriarki dan stereotip gender yang menempatkan laki-laki sebagai pihak dominan dan perempuan sebagai pihak yang harus patuh. 
  • Self-esteem yang rendah membuat individu merasa tidak berharga sehingga lebih mudah menerima perlakuan buruk dari pasangan. 
  • Selain itu, penggunaan alkohol atau zat tertentu serta paparan media yang menormalisasi kekerasan juga dapat memengaruhi perilaku agresif dalam hubungan.
Apa Dampaknya?

Kekerasan dalam pacaran dapat berdampak serius bagi korbannya, baik secara fisik maupun mental. Korban dapat mengalami luka fisik seperti memar, cedera, hingga patah tulang. Selain itu, dampak psikologis yang sering muncul meliputi depresi, gangguan kecemasan, trauma (PTSD), gangguan tidur, hingga keinginan untuk menyakiti diri sendiri (Safitri, A. N., & Herdiana, I., 2023). Dengan kata lain, kekerasan dalam pacaran bukan hanya persoalan hubungan, tetapi juga menyangkut kesehatan mental dan keselamatan individu.


Jadi, Bagaimana Cinta yang Sehat?

Pacaran seharusnya menjadi ruang bagi dua individu untuk saling mengenal dan saling mendukung (Apriantika, 2021). Psikolog sosial, Erich Fromm, menjelaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan spontan, melainkan tindakan aktif untuk merawat dan mendukung perkembangan orang yang kita sayangi. Cinta memiliki beberapa unsur penting, yaitu perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. 

Perhatian menunjukkan peduli terhadap kesejahteraan orang yang dicintai. Tanggung jawab berarti kesiapan untuk hadir dan merespons kebutuhan orang lain secara aktif. Rasa hormat berarti mengakui pasangan sebagai individu yang memiliki kebebasan dan otonomi, bukan sebagai sesuatu yang harus dikendalikan. Sementara pengetahuan berarti upaya memahami pasangan secara mendalam sebagai pribadi yang utuh. Keempat unsur tersebut menunjukkan bahwa cinta bukan tentang menguasai, melainkan tentang memberi ruang bagi pasangan untuk menjadi dirinya sendiri.

Dalam bukunya To Have or To Be?, Erich Fromm menjelaskan dua orientasi dalam hubungan, yaitu to have dan to be. Orientasi to have memandang hubungan sebagai bentuk kepemilikan, sedangkan orientasi to be memandang hubungan sebagai proses untuk bertumbuh bersama. Seperti dijelaskan oleh Kuntoro (1991), “mencintai seseorang adalah memberi, menjaga, dan mendorong untuk tumbuh dan hidup, bukan menghancurkan dan mematikan.” Pandangan ini menunjukkan bahwa cinta bukanlah tentang menguasai pasangan.

Love Yourself is The Key 

Fromm juga menekankan pentingnya self-love. Ketika seseorang tidak mampu untuk mencintai dirinya sendiri, ia cenderung menuntut pasangan untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya. Kondisi ini dapat memunculkan rasa tidak aman, ketergantungan berlebihan, serta perilaku posesif terhadap pasangan yang pada akhirnya berpotensi mengarah pada tindakan kekerasan dalam hubungan (Apriantika, 2021). 

Pacaran sebagai Ruang Tumbuh 

Cinta yang sehat memberi rasa aman, bukan membatasi kebebasan. Jika hubungan mulai dipenuhi tekanan atau kekerasan, kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Melalui layanan dating counseling, Grome membantu individu maupun pasangan memahami masalah hubungan, memperbaiki komunikasi, dan membangun relasi yang lebih sehat. Karena pada akhirnya, cinta seharusnya memberi ruang bagi kedua individu untuk tumbuh bersama dan saling menghargai. 


Cari tahu lebih lanjut!


Referensi

Apriantika, S. G. (2021). Konsep cinta menurut Erich Fromm: Upaya menghindari tindak kekerasan dalam pacaran. Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, 13(1).

Bitara, I. N. W., Afriyani, L. D., Pratiwi, W., Tanjo, Y. L., Almanto, S. C. S., Dewianti, A., & Erika, N. (2023). Literature review: Faktor penyebab kekerasan dalam pacaran (KDP) pada remaja. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo, 2(2).

Dewi, Anita Permata. 2023. “Komnas: Kekerasan pacaran dominasi kekerasan personal tahun 2022.” ANTARA News, 9 Maret 2023. 
Kuntoro, Sodiq A. 1991. “Tinjauan Buku Secara Kritikal: Erich Fromm: To Have or To Be?.” Cakrawala Pendidikan, No. 2, Tahun X, Juni 1991. 

Komnas Perempuan. (2023). Catatan Tahunan Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2022 – Kekerasan Terhadap Perempuan Di Ranah Publik dan Negara: Minimnya Perlindungan dan Pemulihan. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. 

Office on Women’s Health. (2025, January 31). Dating violence and abuse. U.S. Department of Health & Human Services. https://www.womenshealth.gov/relationships-and-safety/other-types-violence-against-women/dating-violence-and-abuse 

Safitri, A. N., & Herdiana, I. (2023). Faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam pacaran pada perempuan: Sebuah tinjauan literatur. Fakultas Psikologi, Universitas Airlangga. 

Tanjung, Idon & Susanti, Reni. 2026. Mahasiswa UIN Suska Riau Bacok Pacar di Kampus, Wakil Rektor Angkat Bicara. Kompas.com. 26 Februari 2026. Tersedia pada: https://regional.kompas.com/read/2026/02/26/171300078/mahasiswa-uin-suska-riau-bacok-pacar-di-kampus-wakil-rektor-angkat-bicara. Diakses pada 9 Maret 2026.