Ada jenis kesalahan yang peristiwanya sudah lama berlalu, tetapi bayangannya masih kerap muncul dan menetap di dalam ingatan. Entah perkataan yang menyakiti seseorang, keputusan yang kurang bijak, atau kesempatan berharga yang terlewat.
Meski kejadiannya sudah lama selesai, pikiran seperti “Seandainya dulu aku nggak melakukan itu…” masih membuat kita menyesal dan menyalahkan diri sendiri.
Menyesali kesalahan memang wajar. Namun, ketika penyesalan terus berulang tanpa henti, kita justru kian kesulitan untuk berdamai dan menerima apa yang sudah terjadi.
Lantas, mengapa melepaskan dan memaafkan diri sendiri atas kesalahan masa lalu bisa terasa begitu berat?
Mengapa Memaafkan Diri Sendiri Bisa Terasa Sulit?
Ketika menyadari bahwa kita telah berbuat salah, respons pertama yang mungkin muncul adalah rasa bersalah, kecewa, hingga marah kepada diri sendiri. Perasaan tersebut bisa muncul saat tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan nilai atau harapan yang kita miliki.
Dalam psikologi, proses berdamai dengan diri sendiri dikenal sebagai self-forgiveness. Cornish dan Wade (2015) menjelaskan bahwa self-forgiveness merupakan proses ketika seseorang mengakui tanggung jawab atas kesalahan yang menyakiti orang lain, menghadapi penyesalan, berusaha memperbaiki dampaknya, serta membangun kembali penerimaan dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Namun, proses ini tidak selalu mudah. Meskipun sudah meminta maaf secara tulus atau berusaha memperbaiki kesalahan, rasa bersalah seringkali menolak untuk pergi.
Misalnya, kamu pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati teman dekatmu. Meskipun sudah meminta maaf dan temanmu telah memafkannya, kamu masih terus mengingat kejadian tersebut dan merasa bahwa kamu adalah teman yang buruk.
Dalam situasi ini, penyesalan tidak lagi hanya berkaitan dengan tindakan yang dilakukan, tetapi juga memengaruhi cara kamu memandang diri sendiri.
Ketika Penyesalan Membuat Kita Terus Menyalahkan Diri Sendiri
Mengingat kesalahan masa lalu sebenarnya wajar, terutama jika tujuannya untuk belajar dari pengalaman tersebut. Namun, ketika kita terus memikirkan kesalahan yang sama tanpa menemukan jalan keluar, kita bisa terjebak dalam rumination, yaitu kebiasaan memikirkan hal-hal negatif secara berulang.
Thompson et al. (2005) menemukan bahwa orang yang lebih mampu memaafkan, baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain, cenderung lebih jarang terjebak dalam pikiran negatif yang berulang.
Misalnya, kamu pernah melakukan kesalahan saat bekerja. Meskipun masalahnya sudah selesai, kamu masih sering mengingatnya dan mulai meragukan kemampuan diri sendiri setiap kali menghadapi tugas serupa. Akibatnya, kamu justru lebih sibuk menyalahkan diri sendiri daripada belajar dari pengalaman tersebut. Padahal, pernah melakukan kesalahan tidak otomatis menjadikan dirimu sebagai orang yang gagal.