Kenapa Kita Sulit Memaafkan Diri Sendiri atas Kesalahan Masa Lalu?

Kenapa Kita Sulit Memaafkan Diri Sendiri atas Kesalahan Masa Lalu?

Dibaca 16 kali
Ada jenis kesalahan yang peristiwanya sudah lama berlalu, tetapi bayangannya masih kerap muncul dan menetap di dalam ingatan. Entah perkataan yang menyakiti seseorang, keputusan yang kurang bijak, atau kesempatan berharga yang terlewat.

Meski kejadiannya sudah lama selesai, pikiran seperti “Seandainya dulu aku nggak melakukan itu…” masih membuat kita menyesal dan menyalahkan diri sendiri.

Menyesali kesalahan memang wajar. Namun, ketika penyesalan terus berulang tanpa henti, kita justru kian kesulitan untuk berdamai dan menerima apa yang sudah terjadi.

Lantas, mengapa melepaskan dan memaafkan diri sendiri atas kesalahan masa lalu bisa terasa begitu berat?

Mengapa Memaafkan Diri Sendiri Bisa Terasa Sulit?

Ketika menyadari bahwa kita telah berbuat salah, respons pertama yang mungkin muncul adalah rasa bersalah, kecewa, hingga marah kepada diri sendiri. Perasaan tersebut bisa muncul saat tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan nilai atau harapan yang kita miliki.

Dalam psikologi, proses berdamai dengan diri sendiri dikenal sebagai self-forgiveness. Cornish dan Wade (2015) menjelaskan bahwa self-forgiveness merupakan proses ketika seseorang mengakui tanggung jawab atas kesalahan yang menyakiti orang lain, menghadapi penyesalan, berusaha memperbaiki dampaknya, serta membangun kembali penerimaan dan penghargaan terhadap diri sendiri.



Namun, proses ini tidak selalu mudah. Meskipun sudah meminta maaf secara tulus atau berusaha memperbaiki kesalahan, rasa bersalah seringkali menolak untuk pergi.

Misalnya, kamu pernah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati teman dekatmu. Meskipun sudah meminta maaf dan temanmu telah memafkannya, kamu masih terus mengingat kejadian tersebut dan merasa bahwa kamu adalah teman yang buruk.

Dalam situasi ini, penyesalan tidak lagi hanya berkaitan dengan tindakan yang dilakukan, tetapi juga memengaruhi cara kamu memandang diri sendiri.

Ketika Penyesalan Membuat Kita Terus Menyalahkan Diri Sendiri

Mengingat kesalahan masa lalu sebenarnya wajar, terutama jika tujuannya untuk belajar dari pengalaman tersebut. Namun, ketika kita terus memikirkan kesalahan yang sama tanpa menemukan jalan keluar, kita bisa terjebak dalam rumination, yaitu kebiasaan memikirkan hal-hal negatif secara berulang.

Thompson et al. (2005) menemukan bahwa orang yang lebih mampu memaafkan, baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain, cenderung lebih jarang terjebak dalam pikiran negatif yang berulang.

Misalnya, kamu pernah melakukan kesalahan saat bekerja. Meskipun masalahnya sudah selesai, kamu masih sering mengingatnya dan mulai meragukan kemampuan diri sendiri setiap kali menghadapi tugas serupa. Akibatnya, kamu justru lebih sibuk menyalahkan diri sendiri daripada belajar dari pengalaman tersebut. Padahal, pernah melakukan kesalahan tidak otomatis menjadikan dirimu sebagai orang yang gagal.


Belajar Memaafkan Diri Sendiri Tanpa Mengabaikan Kesalahan

Memaafkan diri sendiri bukan berarti mengabaikan kesalahan, mencari pembenaran atas kekeliruan, atau memaksakan diri untuk langsung merasa baik-baik saja. Cornish dan Wade (2015) menjelaskan empat komponen dalam model self-forgiveness, yaitu responsibility, remorse, restoration, dan renewal. Keempatnya dapat menjadi panduan untuk belajar menerima kesalahan tanpa mengabaikan tanggung jawab.

  • Mengakui kesalahan tanpa menghakimi diri sendiri: Cobalah memahami apa yang sebenarnya terjadi dan dampaknya tanpa perlu langsung melabeli dirimu sebagai orang yang buruk. Mengakui kesalahan adalah bentuk tanggung jawab, namun menganggap seluruh identitasmu adalah sebuah kesalahan hanya akan memicu rasa putus asa. 
  • Memahami penyesalan tanpa terus menyalahkan diri sendiri : Rasa bersalah dan penyesalan merupakan respons yang wajar. Namun, penting untuk membedakan penyesalan terhadap tindakan dengan penilaian negatif terhadap diri sendiri.
  • Memperbaiki hal yang masih memungkinkan : Jika memungkinkan, kamu bisa meminta maaf atau memperbaiki dampak dari tindakanmu. Selain itu, cobalah mengubah perilaku agar kesalahan yang sama tidak terulang di masa depan.
  • Memberi kesempatan pada diri sendiri untuk berkembang : Kesalahan masa lalu tidak harus terus menentukan bagaimana kamu memandang dirimu. Kamu tetap bisa belajar, menerima diri sendiri, dan mengambil keputusan yang lebih bijak di masa depan.

Kamu Boleh Belajar dari Kesalahan Tanpa Terus Menghukum Diri Sendiri 

Memaafkan diri sendiri bukan berarti melupakan apa yang pernah terjadi atau menganggap semua tindakan kita dapat dibenarkan. Kita tetap perlu menyadari konsekuensi dari pilihan yang dibuat dan bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan. 

Namun, terus menyalahkan diri sendiri juga tidak selalu membantu memperbaiki keadaan. Ada kalanya kita perlu menerima bahwa keputusan di masa lalu dibuat berdasarkan pemahaman, kondisi, dan kemampuan yang kita miliki saat itu. 

Coba tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah aku terus mengingat kesalahan ini untuk belajar darinya, atau aku hanya sedang mencari alasan untuk menyalahkan diriku sendiri?” 

Jika penyesalan terhadap pengalaman masa lalu terus mengurungmu, membuatmu sulit menerima diri sendiri, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, ingatlah kamu nggak harus memahaminya sendirian. GROME menyediakan layanan konseling bersama psikolog yang dapat membantumu mengeksplorasi perasaan, memahami pengalaman yang masih mengganggu, dan menemukan langkah yang sesuai dengan kebutuhanmu. 

Kamu memang tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tetapi kamu masih punya kesempatan untuk menentukan bagaimana kamu ingin melangkah setelahnya.


Referensi

  • Cornish, M. A., & Wade, N. G. (2015). A therapeutic model of self-forgiveness with intervention strategies for counselors. Journal of Counseling & Development, 93(1), 96–104. https://doi.org/10.1002/j.1556-6676.2015.00185.x
  • Hall, J. H., & Fincham, F. D. (2005). Self-forgiveness: The stepchild of forgiveness research. Journal of Social and Clinical Psychology, 24(5), 621–637. https://doi.org/10.1521/jscp.2005.24.5.621
  • Thompson, L. Y., Snyder, C. R., Hoffman, L., Michael, S. T., Rasmussen, H. N., Billings, L. S., Heinze, L., Neufeld, J. E., Shorey, H. S., Roberts, J. C., & Roberts, D. E. (2005). Dispositional forgiveness of self, others, and situations. Journal of Personality, 73(2), 313–359. https://doi.org/10.1111/j.1467-6494.2005.00311.x