Memahami Cara Repair dalam Hubungan
memahami-cara-repair-dalam-hubungan

Memahami Cara Repair dalam Hubungan

Mengapa Sulit untuk Baikan dengan Pasangan?

Terkadang yang paling sulit dalam hubungan bukanlah bertengkar, melainkan menemukan jalan untuk kembali setelahnya. Sehingga, penting untuk memahami mengapa baikan terasa sulit dan bagaimana cara melakukannya dengan lebih sehat.

Konflik seringkali dianggap sebagai masalah dalam suatu hubungan. Padahal, menurut John Gottman, konflik adalah hal yang normal. Yang justru bisa menjadi masalah adalah bagaimana sebuah pasangan mengelola konflik dan memperbaiki hubungan setelah konflik terjadi. Sebelum memahami cara memperbaiki hubungan (repair), penting untuk mengenali pola komunikasi yang justru merusak hubungan (repair). Sejalan dengan hal tersebut, Edward Tronic menyatakan hubungan yang sehat bukan yang selalu selaras, melainkan yang mampu mengalami konflik dan kemudian memperbaikinya (Tronick, 2007, dalam Borg & Miyamoto-Borg, 2026).

Pola Komunikasi yang Menghambat Proses Baikan 

Gottman mengidentifikasi empat pola komunikasi yang dikenal sebagai Four Horsemen of the Apocalypse, antara lain (Gottman & Silver, 1999, dalam Schlosser, 2018):
  • Kritik (Criticism)
Kritik terjadi ketika kita menyerang karakter pasangan, bukan perilakunya. Contoh: “Kamu selalu egois”, “Kamu nggak pernah peduli”. Hal ini membuat pasangan akan merasa diserang secara pribadi dan tidak didengar.
  • Meremehkan (Contempt)
Bentuknya dapat berupa sarkasme, ejekan, menghina, atau ekspresi merendahkan, seperti rolling eyes. Sikap ini menunjukkan bahwa kita merasa “lebih tinggi” dari pasangan. 
  • Sikap Defensif (Defensiveness)
Ketika merasa diserang, kita membela diri dengan alasan atau menyalahkan balik. Contoh: “Bukan salahku, kamu juga salah!”. Akibatnya, konflik tidak terselesaikan dan justru semakin besar.
  • Menghindar (Stonewalling)
Terjadi ketika seseorang menarik diri dari percakapan, seperti diam, menghindari kontak mata, atau pergi. Biasanya ini terjadi karena merasa kewalahan secara emosional tetapi, bagi pasangan, ini terasa seperti diabaikan.


Pentingnya Repair dalam Hubungan

Kabar baiknya, pola-pola komunikasi di atas ini dapat diperbaiki karena hubungan yang sehat bukan yang bebas dari konflik, tetapi yang mampu memperbaiki hubungan setelah konflik terjadi. Perbaikan ini yang disebut repair attempt. Repair attempt adalah segala usaha, baik verbal maupun nonverbal, yang bertujuan untuk meredakan konflik dan mencegahnya semakin memburuk (Brittle, 2014). Repair membantu pasangan menurunkan ketegangan emosional, serta membuka ruang untuk saling mendengarkan. Tujuannya bukan untuk menghilangkan konflik, tetapi untuk melewatinya bersama dengan keterlibatan emosional yang lebih siap. 

Agar repair berhasil, kita perlu memahami pasangan, meliputi apa yang mereka rasakan, apa yang mereka butuhkan, dan bagaimana mereka ingin dicintai. Menurut Khalaf dan Khalaf (2017), memahami pasangan menjadi “kunci” untuk memperbaiki hubungan secara lebih baik. Karena cinta bukan hanya perasaan, tetapi juga usaha untuk memahami, memperbaiki, dan menjaga hubungan yang perlu dilakukan oleh kedua pihak. Semakin besar usaha yang dilakukan, semakin dalam pula hubungan yang terbentuk.

Tapi, Mengapa Upaya Baikan Sering Gagal?

Menurut Borg dan Miyamoto-Borg (2026), salah satu penyebab utamanya adalah repair dilakukan saat emosi belum siap. Emosi yang belum diproses cenderung muncul kembali, sehingga konflik berulang tanpa penyelesaian yang tuntas. Selain itu, repair sering gagal ketika dilakukan terlalu cepat tanpa memberi ruang bagi pasangan untuk merasa dipahami. Dalam kondisi ini, upaya perbaikan justru dapat terasa seperti mengabaikan perasaan. Faktor lain yang berkontribusi adalah fokus yang terlalu besar pada diri sendiri. Ketika seseorang lebih menekankan pembelaan atau penyelesaian cepat, kebutuhan emosional pasangan seringkali terabaikan. Akibatnya, koneksi yang ingin dipulihkan justru semakin menjauh.



Cara yang Dapat Membantu Proses Baikan Menjadi Lebih Efektif
(Berdasarkan Schlosser, 2018) 

  • Mengakui perasaan pasangan 
Mengakui perasaan pasangan merupakan langkah awal yang krusial. Validasi tidak berarti menyetujui, tetapi menunjukkan bahwa perasaan pasangan dipahami dan dihargai. Misalnya: “Kalau aku di posisimu, aku mungkin juga melihatnya begitu.” 
  • Mendengarkan tanpa menyela 
Berikan ruang bagi pasangan untuk menyampaikan perasaannya tanpa interupsi. Fokus utama adalah memahami, bukan merespons atau membela diri. 
  • Tidak terburu-buru menyelesaikan konflik 
Hindari terburu-buru menyelesaikan masalah. Dalam kondisi emosi yang tinggi, mengambil jeda sejenak dapat membantu menurunkan intensitas emosi. 
  • Hadir secara emosional 
Repair membutuhkan keterlibatan yang utuh, baik secara verbal maupun nonverbal. Empati, kontak mata, dan bahasa tubuh terbuka menjadi bagian penting dalam membangun kembali koneksi. 
  • Tanggung jawab personal 
Mengakui kesalahan secara tulus tanpa menyalahkan balik menunjukkan kedewasaan emosional dan membuka ruang untuk rekonsiliasi. 
  • Komunikasi yang menenangkan
Gunakan bahasa yang lebih lembut dan tidak menyerang. Cara menyampaikan pesan sering kali lebih menentukan dibanding isi pesan itu sendiri. Mengungkapkan apresiasi, rasa terima kasih, serta mengingatkan bahwa hubungan berada dalam satu tim dapat mengembalikan rasa aman. 
  • Mengurangi ketegangan 
Strategi sederhana seperti humor yang tidak menyakiti, sentuhan fisik yang menenangkan, atau kesepakatan untuk beristirahat sejenak dapat membantu meredakan situasi.

Coba Gunakan Kalimat Ini Saat Konflik!

Kadang, bukan isi pesan yang menjadi masalah, tetapi cara kita menyampaikannya. Perubahan kecil dalam kalimat bisa membantu meredakan konflik dan membuka kembali koneksi dengan pasangan. Berikut beberapa contoh kalimat yang mendukung repair dalam hubungan berdasarkan Borg dan Miyamoto-Borg (2026) dan Real Life Counseling (2024):
 
  • "Aku sudah minta maaf kan? kita lanjut saja" menjadi "Aku bisa melihat bagaimana hal ini terasa buat kamu" 
  • "Itu bukan maksudku kamu salah paham" menjadi "Aku ingin memahami bagaimana perasaanmu waktu itu" 
  • "Kita perbaiki saja" menjadi "Aku ingin memperbaiki ini dan aku tetap di sini sama kamu" 
  • "Aku merasa.." menjadi "Tolong sampaikan dengan lebih lembut ya" 
  • "Aku lagi butuh waktu jangan ganggu dulu" menjadi "Aku cuma butuh situasinya lebih tenang sebentar" 
  • “Aku menghargai kamu" menjadi "Aku tahu kok ini bukan salah kamu”



Memperbaiki Hubungan Tanggung Jawab Kedua Pihak

Repair bukan sekadar teknik komunikasi, melainkan proses kolaboratif yang menuntut pemahaman, empati, dan keterlibatan dari kedua belah pihak. Dalam proses ini, cinta tidak hanya hadir sebagai perasaan, tetapi juga sebagai usaha untuk memahami, memperbaiki, dan menjaga hubungan secara berkelanjutan.
 
Pada akhirnya, baikan dengan pasangan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi tentang siapa yang bersedia untuk kembali terhubung. Dalam beberapa situasi, proses ini tidak selalu mudah dilakukan sendiri. Marriage counseling maupun dating counseling yang dihadirkan oleh grome.id dapat menjadi ruang yang aman bagi para pasangan untuk memahami dinamika hubungan secara lebih dalam, mengelola konflik dengan lebih sehat, serta membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus. 

Jangan ragu untuk mulai memperbaiki, sekecil apapun langkahnya ya, Gromers!



Referensi:
Gottman, J. M., & Silver, N. (1999). The seven principles for making marriage work. Crown. Brittle, Z. (2014, September 3). R is for repair. The Gottman Institute. https://www.gottman.com 
Borg, M. B., Jr., & Miyamoto-Borg, H. (2026, January 23). Why repair attempts fail (even when you mean them). Psychology Today. https://www.psychologytoday.com 
Schlosser, T. (2018, June 23). Relationship conflict: The art of repair. MyLife Psychologists. https://www.mylifepsychologists.com.au 
Khalaf, D., & Khalaf, C. (2017, March 17). How to make repair attempts so your partner feels loved. The Gottman Institute. https://www.gottman.com 
Real Life Counseling. (2024). Part three: Repair attempts. https://www.reallifecounseling.us