Cara yang Dapat Membantu Proses Baikan Menjadi Lebih Efektif
(Berdasarkan Schlosser, 2018)
- Mengakui perasaan pasangan
Mengakui perasaan pasangan merupakan langkah awal yang krusial. Validasi tidak berarti menyetujui, tetapi menunjukkan bahwa perasaan pasangan dipahami dan dihargai. Misalnya: “Kalau aku di posisimu, aku mungkin juga melihatnya begitu.”
- Mendengarkan tanpa menyela
Berikan ruang bagi pasangan untuk menyampaikan perasaannya tanpa interupsi. Fokus utama adalah memahami, bukan merespons atau membela diri.
- Tidak terburu-buru menyelesaikan konflik
Hindari terburu-buru menyelesaikan masalah. Dalam kondisi emosi yang tinggi, mengambil jeda sejenak dapat membantu menurunkan intensitas emosi.
Repair membutuhkan keterlibatan yang utuh, baik secara verbal maupun nonverbal. Empati, kontak mata, dan bahasa tubuh terbuka menjadi bagian penting dalam membangun kembali koneksi.
Mengakui kesalahan secara tulus tanpa menyalahkan balik menunjukkan kedewasaan emosional dan membuka ruang untuk rekonsiliasi.
- Komunikasi yang menenangkan
Gunakan bahasa yang lebih lembut dan tidak menyerang. Cara menyampaikan pesan sering kali lebih menentukan dibanding isi pesan itu sendiri. Mengungkapkan apresiasi, rasa terima kasih, serta mengingatkan bahwa hubungan berada dalam satu tim dapat mengembalikan rasa aman.
Strategi sederhana seperti humor yang tidak menyakiti, sentuhan fisik yang menenangkan, atau kesepakatan untuk beristirahat sejenak dapat membantu meredakan situasi.
Coba Gunakan Kalimat Ini Saat Konflik!
Kadang, bukan isi pesan yang menjadi masalah, tetapi cara kita menyampaikannya. Perubahan kecil dalam kalimat bisa membantu meredakan konflik dan membuka kembali koneksi dengan pasangan. Berikut beberapa contoh kalimat yang mendukung repair dalam hubungan berdasarkan Borg dan Miyamoto-Borg (2026) dan Real Life Counseling (2024):
- "Aku sudah minta maaf kan? kita lanjut saja" menjadi "Aku bisa melihat bagaimana hal ini terasa buat kamu"
- "Itu bukan maksudku kamu salah paham" menjadi "Aku ingin memahami bagaimana perasaanmu waktu itu"
- "Kita perbaiki saja" menjadi "Aku ingin memperbaiki ini dan aku tetap di sini sama kamu"
- "Aku merasa.." menjadi "Tolong sampaikan dengan lebih lembut ya"
- "Aku lagi butuh waktu jangan ganggu dulu" menjadi "Aku cuma butuh situasinya lebih tenang sebentar"
- “Aku menghargai kamu" menjadi "Aku tahu kok ini bukan salah kamu”
Memperbaiki Hubungan Tanggung Jawab Kedua Pihak
Repair bukan sekadar teknik komunikasi, melainkan proses kolaboratif yang menuntut pemahaman, empati, dan keterlibatan dari kedua belah pihak. Dalam proses ini, cinta tidak hanya hadir sebagai perasaan, tetapi juga sebagai usaha untuk memahami, memperbaiki, dan menjaga hubungan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, baikan dengan pasangan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi tentang siapa yang bersedia untuk kembali terhubung. Dalam beberapa situasi, proses ini tidak selalu mudah dilakukan sendiri. Marriage counseling maupun dating counseling yang dihadirkan oleh grome.id dapat menjadi ruang yang aman bagi para pasangan untuk memahami dinamika hubungan secara lebih dalam, mengelola konflik dengan lebih sehat, serta membangun kembali koneksi emosional yang sempat terputus.
Jangan ragu untuk mulai memperbaiki, sekecil apapun langkahnya ya, Gromers!
Referensi:
Gottman, J. M., & Silver, N. (1999). The seven principles for making marriage work. Crown.
Brittle, Z. (2014, September 3). R is for repair. The Gottman Institute. https://www.gottman.com
Borg, M. B., Jr., & Miyamoto-Borg, H. (2026, January 23). Why repair attempts fail (even when you mean them). Psychology Today. https://www.psychologytoday.com
Schlosser, T. (2018, June 23). Relationship conflict: The art of repair. MyLife Psychologists. https://www.mylifepsychologists.com.au
Khalaf, D., & Khalaf, C. (2017, March 17). How to make repair attempts so your partner feels loved. The Gottman Institute. https://www.gottman.com
Real Life Counseling. (2024). Part three: Repair attempts. https://www.reallifecounseling.us